• Sabtu, 3 Desember 2022

Tragedi Karbala 10 Muharam 61 H, Wafatnya Sayyidina Husein Cucu Rasulullah

- Selasa, 9 Agustus 2022 | 09:46 WIB
Ilustrasi gambar dari islami.co
Ilustrasi gambar dari islami.co

TINEMU.COM – Para Pemimpin Islam setelah Rasulullah dan khalifah pertama Abu Bakar wafat mengalami berbagai ujian. Umar bin Khattab sebagai khalifah kedua tewas dibunuh Abu Lu’Lu’ah, seorang pandai besi asal Persia. Ia mendendam setelah Persia ditaklukkan pasukan Islam.

Pada suatu pagi saat Umar bin Khattab dan kaum Muslimin melaksanakan salat Subuh di Masjid Nabawi, Abu Lu’Lu’ah menikam tubuh khalifah hingga tersungkur dan meninggal dunia.

Sementara khalifah ketiga, Utsman bin Affan, tewas dibunuh kaum oposisi saat terjadi krisis politik yang tidak puas dengan kepemimpinannya. Kaum Muslimin yang datang dari Mesir, Bashrah, dan Kufah mengepung rumah khalifah selama hampir empat puluh hari.

Utsman bin Affan akhirnya tewas dihunjam dua tombak pendek milik para oposisi. Dan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah keempat meninggal dunia dibunuh Abdurrahman bin Muljam, seorang kaum Khawarij, ketika ia sedang wudu untuk menunaikan salat Subuh.

Abdurrahman bin Muljam yang datang tiba-tiba mengayunkan pedangnya yang terhunus. Khalifah keempat itu tak sempat mengelak hingga pedang mengenai kepalanya dan ia roboh. Beberapa saat kemudian ia meninggal dunia.

Baca Juga: Catat Kinerja Positif, Laba Bersih KAI Meningkat 254% pada Semester I 2022

Sejak kepemimpinan Ali bin Abi Thalib, Muawiyah dari Bani Umayyah yang berkedudukan di Syam atau Suriah terus merongrong. Ia berambisi merebut tampuk kekuasaan khalifah. Dua hari sepeninggal Khalifah Ali bin Abi Thalib, kaum Muslimin di Kufah sebagai pusat pemerintahan Islam membaiat Sayyidina Hasan bin Ali (selanjutnya ditulis Hasan).

Menurut Al-Hamid Al-Husaini dalam Al-Husein bin Ali, Pahlawan Besar dan Kehidupan Islam pada Zamannya (1978), beberapa saat sebelum Ali bin Abi Thalib wafat, salah seorang sahabatnya bertanya apakah para pengikutnya harus membaiat salah satu putranya, yakni Hasan. Ali bin Abi Thalib menjawab, “Aku tidak menyuruh dan tidak melarang.”

Mulanya Hasan enggan menerima pembaiatan dirinya sebagai khalifah, tapi ia didesak penduduk Kufah sehingga akhirnya menerimanya. “Keengganan itu tampak sekali dari sikapnya yang pasif selama dua bulan sejak dibaiat sebagai khalifah.

Selama itu ia tidak mengambil langkah apa pun juga terhadap ancaman Muawiyah bin Abu Sufyan di Syam yang sudah siap siaga hendak mencaplok seluruh dunia Islam,” tulis Al-Hamid Al-Husaini.

Halaman:

Editor: Zabidi Sayidi

Sumber: Tirto.id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Gus Baha: Manusia Harus Ingat Zaman Dulu Bagaimana?

Minggu, 6 November 2022 | 10:45 WIB

Mengenal Al Kindi: Filsuf Muslim Pertama (1)

Kamis, 13 Oktober 2022 | 21:51 WIB

Kisah-kisah Karomah Syekh Sufi Ibrahim bin Adham

Jumat, 23 September 2022 | 21:43 WIB
X