• Sabtu, 3 Desember 2022

Gus Baha: Terserah Kita, Dunia Ini Akan Jadi Aset atau Prahara di Akhirat

- Sabtu, 10 September 2022 | 20:06 WIB
Foto dari dxchannel.com
Foto dari dxchannel.com

TINEMU.COM – Dalam sebuah kajian di youtube Gus Baha mengupas perlunya memahami fiqih dalam hidup.  Gus Baha di antaranya dawuh;

Jadi Nabi di saat yang sama mengkritik orang fasik supaya bertobat. Di saat yang sama juga memberi harapan. Nah, Fiqih yang demikian ini yang harus tertanam terus, supaya kita bisa benar di dalam memahami sebuah hadits.

Terusannya juga sama. Kata Ibnu Khaldun kalau menafsiri dengan ”Cinta dunia karena dunia”. Jadi yang dikritik Nabi adalah mencintai dunia karena dunia. Tapi kalau kita berebut negara supaya suasananya lebih Islami, ya tentu dengan aturan konstitusional. Itu bukan merebut dunia untuk dunia.

Misalnya kamu ingin punya anak yang jadi Bupati, supaya Bantul suasananya Islami. Paling tidak masih lumayan, karena sang Bupati dari seorang santri. Begitu juga ketika ingin jadi Gubernur, daripada yang memimpin itu orang Fasik, kasihan para santri. Maka lebih baik dipimpin yang berlatar belakang santri, paling tidak suasananya akan islami.

Nah yang seperti itu bukan mencintai dunia untuk dunia. Misalnya ada anak Kyai alim pingin jadi dosen. Supaya ada suasana santri di kampus, agar tidak sekuler. Itu berarti tidak dunia untuk dunia. Tapi dunianya untuk sarana, kata Ibnu Khaldun.
Begitu seterusnya, semua hadits ditafsirkan demikian.

Ketika Allah mengkritik dunia, maka itu adalah dunia yang menuruti hawa nafsu. Ketika Allah memuji dunia, maka maknanya adalah ketika dunia adalah sebagai tempat buat sujud.

Baca Juga: Turunkan Angka Kematian Ibu dan Anak, Buku KIA Wajib Dimiliki Keluarga

Jadi saya ulang lagi. Misalnya Allah mengkritik; “dunia itu hanya tipuan belaka!”. Berarti itu dunia yang untuk dunia, yang untuk menuruti nafsu.

Tapi Allah juga habis-habisan memuji dunia; “dunia itu untuk tanaman di akherat”. Kelak kita di akherat nanti, semua referensi tentang kita adalah bagaimana saat kita hidup di dunia. Kamu masuk surga ya alasannya karena prestasimu di dunia. Dan kita masuk neraka alasannya juga karena kesalahan kita di dunia. Berarti dunia itu super penting apa tidak?. Super penting!.

Halaman:

Editor: Zabidi Sayidi

Tags

Terkini

Gus Baha: Manusia Harus Ingat Zaman Dulu Bagaimana?

Minggu, 6 November 2022 | 10:45 WIB

Mengenal Al Kindi: Filsuf Muslim Pertama (1)

Kamis, 13 Oktober 2022 | 21:51 WIB

Kisah-kisah Karomah Syekh Sufi Ibrahim bin Adham

Jumat, 23 September 2022 | 21:43 WIB
X