• Sabtu, 3 Desember 2022

Sejarah Kanjeng Nabi Muhammad SAW: Kepergian Ibunda yang Memilukan (3)

- Jumat, 23 September 2022 | 09:37 WIB
Ilustrasi Foto: dailyasia.com
Ilustrasi Foto: dailyasia.com

Muhammad dan ibunya tinggal selama satu bulan di Yathrib, sebelum memulai perjalanan kembali. Perjalanan itu merupakan perjalanan yang sangat menyedihkan bagi anak tersebut. Mereka belum berangkat jauh saat ibunya jatuh sakit. Suatu penyakit fatal yang dengan cepat mewafatkannya.

Walaupun dia hanya menempuh jarak yang singkat dari Yathrib, dia tidak bisa kembali ke sana, ataupun melanjutkan perjalanannya untuk kembali pulang. Sehingga Muhammad, seorang anak yang baru berusia enam tahun, kini tidak memiliki kedua orang tua.

Baca Juga: Para Pelajar Sragen Antusias Sambut Ibu Iriana dan Ibu Wury

Setelah Aminah dikuburkan di tempat ia meninggal, al-Abwa, Muhammad yang hatinya penuh dengan duka cita, melanjutkan perjalanannya ke Mekah dengan pengasuhnya, Ummuu Ayman.

Baginya, ia merasa bahwa tak ada yang bisa menggantikan kecintaan dan kelembutan ibundanya. Pada hari-hari terakhirnya ia tetap mengingat Aminah, dan merasakan kesedihan kehilangan ibunya.[2]

Nabi tetap menunjukkan rasa terima kasih kepada seluruh wanita yang pernah merawatnya di masa kanak-kanak hingga akhir hayatnya. Ia menjadi sangat berterima kasih kepada Thuwaybah, perempuan yang pertama kali menyusuinya setelah ia dilahirkan.

Ketika Nabi menaklukkan Mekah lebih dari enampuluh tahun kemudian, ia meminta untuk bertemu dengan Thuwaybah. Ketika ia mengetahui bahwa Thuwaybah telah meninggal, ia juga menanyakan kepada putra yang disusuinya ketika dia baru dilahirkan. Ia ingin membalas kebaikan Thuwaybah kepada putranya. Tetapi ia telah diberitahu bahwa ia juga telah meninggal.

Begitu juga ketika Halimah mengunjungi dia di Madinah. Ketika tiba ia bangkit untuk menerima Halimah, seraya berteriak: “Ibuku! Ibuku!” Ia menunjukkan semua rasa terima kasih dari seorang anak yang patuh dan penuh kasih. Ia juga berbaik hati kepada al-Shayma’, putri Halimah dan saudari sesusuan dengannya.

Baca Juga: Sejarah Nabi Muhammad SAW: Peristiwa Aneh di Rumah Halimah (2)

Setelah pertempuran di Hunayn, pada saat suku Hawazin dikalahkan, al-Shayma telah dipenjarakan oleh pasukan Islam. Dia mempunyai hubungan dengan Nabi yang diketahui oleh mereka sehingga mereka membawanya kepada Nabi.

Halaman:

Editor: Zabidi Sayidi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Gus Baha: Manusia Harus Ingat Zaman Dulu Bagaimana?

Minggu, 6 November 2022 | 10:45 WIB

Mengenal Al Kindi: Filsuf Muslim Pertama (1)

Kamis, 13 Oktober 2022 | 21:51 WIB

Kisah-kisah Karomah Syekh Sufi Ibrahim bin Adham

Jumat, 23 September 2022 | 21:43 WIB
X