• Sabtu, 3 Desember 2022

Sejarah Kanjeng Nabi Muhammad SAW: Pergantian Pengasuh (4)

- Jumat, 23 September 2022 | 10:30 WIB
Ilustrasi Foto: archive.almanar.com.lb
Ilustrasi Foto: archive.almanar.com.lb

TINEMU.COM - Abdul Muthalib menyadari bahwa kematiannya tidak akan lama lagi. Masa depan anak yatim piatunya ini dengan segera menjadi perhatian utamanya. Oleh karena itu, dia memanggil putranya Abu Thalib dan meminta dia secara khusus untuk memelihara kemenakan lelakinya, Muhammad, setelah dia meninggal.

Adalah baik bahwa ia melakukannya, sebab Abdul Muthalib meninggal dalam masa dua tahun Muhammad berada dalam pengasuhannya. Konon Abdul Muthalib berumur seratus dua puluh tahun ketika meninggal, tetapi cucunya baru berusia delapan tahun. Lagi, kematian telah merenggut jiwa yang dikasihi dari kehidupan Muhammad.

Dia sangat sedih karena telah kehilangan kakeknya. Dia merasakan bahwa ia telah kehilangan orang yang kasih sayangnya tidak dapat ditandingi oleh orang lain. Dia sangat berduka atas kehilangannya selayaknya duka seorang anak yang penuh kasih pada saat menyadari bahwa ia tak akan pernah melihat lagi orang yang dikasihinya itu untuk selamanya.

Barangkali, Abdul Muthalib memilih untuk memercayakan Muhammad kepada pemeliharaan Abu Thalib sebab di kemudian hari, ia mempunyai ibu yang sama seperti Abdullah, bapak Muhammad. Mungkin ia juga menyadari bahwa Abu Thalib adalah yang paling baik dan peduli di antara putra-putranya.

Hal ini menjelaskan mengapa Abu Thalib telah dipilih untuk tugas tersebut, di samping fakta bahwa ia mempunyai banyak anak dan seorang laki-laki yang kurang mampu. Dari sisi keuangan, banyak paman-paman Muhammad lainnya yang mempunyai tempat lebih baik untuk memeliharanya.

Baca Juga: Sejarah Kanjeng Nabi Muhammad SAW: Kepergian Ibunda yang Memilukan (3)

Namun, Abdul Muthalib tetap memilih Abu Thalib, dan itu memang suatu pilihan yang amat sesuai.

Abu Thalib tetap memelihara Muhammad sampai menjadi seorang pria dewasa. Bahkan kemudian, ia tetap menunjukkan kepedulian yang penuh kasih layaknya seorang bapak kepada putranya yang telah dewasa. Dia tak pernah lambat di dalam memberikan nasihat dan bimbingan.

Ketika Muhammad mulai menerima risalah dan menyampaikan kepada masyarakatnya, Abu Thalib mendukungnya di hadapan oposisi yang kuat dari kaum Quraish. Dia tak pernah meninggalkannya, bahkan pada saat tekanan-tekanan telah sangat kuat untuk bisa dihadapi oleh orang tua seperti Abu Thalib waktu itu.

Halaman:

Editor: Zabidi Sayidi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Gus Baha: Manusia Harus Ingat Zaman Dulu Bagaimana?

Minggu, 6 November 2022 | 10:45 WIB

Mengenal Al Kindi: Filsuf Muslim Pertama (1)

Kamis, 13 Oktober 2022 | 21:51 WIB

Kisah-kisah Karomah Syekh Sufi Ibrahim bin Adham

Jumat, 23 September 2022 | 21:43 WIB
X