• Sabtu, 3 Desember 2022

Sejarah Kanjeng Nabi Muhammad SAW: Menjadi Penggembala Kambing (5)

- Sabtu, 24 September 2022 | 09:31 WIB
Ilustrasi Gambar: islamandihsan.com
Ilustrasi Gambar: islamandihsan.com

TINEMU.COM - Pada waktu itu, di dalam masyarakat Mekah hanya ada sedikit hal yang dapat dilakukan bagi seorang anak lelaki muda seumur Muhammad. Kehidupan seluruh masyarakat lebih besar bergantung pada perdagangan yang tumbuh subur melalui perjalanan yang biasa dilakukan ke Syria dan Yaman.

Perjalanan ini berarti bahwa secara esensial perdagangan Mekah yang kita sebut sekarang sebagai “perdagangan luar negeri”, bergantung pada ekspor dan impor. Supaya bisa berhasil di dalam bidang ini diperlukan pengalaman yang banyak dalam semua segi yang tidak bisa diperoleh dari seorang anak lelaki di permulaan usia remajanya.

Lebih dari itu, bepergian pada usia semuda itu melintasi medan-medan sulit seperti Arabia adalah petualangan yang terlalu besar dan berisiko bagi seorang anak lelaki muda seperti Muhammad.

Ada sedikit atau tidak ada pertanian di Mekah atau daerah di sekitarnya. Jika ada, hanya sedikit pekerjaan di bidang industri yang tersedia. Bangsa Arab benar-benar meremehkan seseorang yang terikat dengan pekerjaan semacam itu.

Satu-satunya pekerjaan yang pantas untuk Arab Mekah adalah berdagang. Oleh karena itu, tak ada apa pun yang Muhammad dapat lakukan untuk membantu pamannya kecuali bekerja sebagai penggembala.

Hidup sebagai penggembala perlu perenungan dan kesabaran. Seorang penggembala mempunyai banyak waktu dan hanya sedikit yang dapat dia lakukan, kecuali mengawasi binatang yang digembalakannya.

Baca Juga: Kisah-kisah Karomah Syekh Sufi Ibrahim bin Adham

Ketika ia duduk sendiri, pemikirannya tak terelakkan kembali ke alam semesta di sekitarnya. Ia berpikir tentang ciptaan, dan permukaan yang luas tak habis-habisnya.

Dia berpikir bagaimana keanekaragaman makhluk yang berbeda-beda dapat berbagi hidup mereka di salah satu sudut [alam semesta] yang kecil itu, dan dusta-dusta yang berada di luar lingkaran persepsi manusia.

Halaman:

Editor: Zabidi Sayidi

Artikel Terkait

Terkini

Gus Baha: Manusia Harus Ingat Zaman Dulu Bagaimana?

Minggu, 6 November 2022 | 10:45 WIB

Mengenal Al Kindi: Filsuf Muslim Pertama (1)

Kamis, 13 Oktober 2022 | 21:51 WIB

Kisah-kisah Karomah Syekh Sufi Ibrahim bin Adham

Jumat, 23 September 2022 | 21:43 WIB
X