• Sabtu, 3 Desember 2022

Sejarah Kanjeng Nabi Muhammad SAW: Ka’bah Pernah Jadi Pusat Kemusyrikan Terbesar (8)

- Minggu, 25 September 2022 | 06:00 WIB
Kota Makkah tahun 1850- Foto ilustrasi dari ihram.co.id
Kota Makkah tahun 1850- Foto ilustrasi dari ihram.co.id

TINEMU.COM - Nabi Muhammad SAW diutus sebagai Rasul pamungkas, tepat dipusat episentrum peradaban umat manusia. Yang beliau hadapi adalah satu elit global yang menguasai sebuah pasar dunia. Dimana sistem sosial, politik, ekonomi dan perdagangan bercampur aduk menjadi sebuah rezim kejahatan yang menggurita.

Sebagaimana sudah dikisahkan sebelumnya, bahwa bangsa Arab pra-Islam sebenarnya sudah berhasil mendaki hingga kepuncak kebudayaan. Hal ini memang tidak terlihat dari artefak fisik, tapi lebih otentik dari itu, ketinggian budaya mereka terlihat dari sistem bahasa yang mereka gunakan.

Di mana menurut Yuval Noah Harari, bahwa bahasa atau kemampuan linguistik adalah parameter paling otentik untuk menunjukkan capaian kognitif dan tingkat kemajuan peradaban Homo Sapiens.

Maka demikianlah, dengan segenap perangkat kebudayaan yang sudah matang tersebut, tak ayal bangsa Arab pra-Islam mampu menyulap tempat paling suci di muka bumi, menjadi pusat kemusyrikan terbesar di dunia.

Mereka mendirikan lebih dari 360 berhala yang disembah oleh para peziarah setiap tahun. Tak ada agama samawi yang mampu menembus sistem ini. Bahkan agama besar lainnya seperti magi, zoroaster dan kepercayaan pagan lainnya justru berlutut mengikuti sistem keperjayaan jahiliyah.

Baca Juga: Desa Wisata Jawa Barat Jadi Prioritas Misi Penjualan Destinasi untuk Pasar Nusantara

Ka'bah yang semula menjadi pusat peziarahan umat manusia, berubah menjadi pusat menyebahan berhala terbesar.

Pengaruh mereka demikian besar, hingga perilaku mereka ditiru oleh kabilah-kalibah lain di seantero jazirah arab. Berhala-berhala sembahan Kaum Quraisy bertebaran mulai dari Syam hingga Yaman, dari Laut Merah hingga Iraq. Hingga pada masa sebelum turunannya kenabian terakhir, aroma kejahiliyahan sudah bisa tercium dari jarah ribuan kilometer dari Kota Makkah.

Bahkan Abrahah, dengan segenap dukungan dari Bizantium dan Abbaisinia, tak mampu mengalahkan pengaruh mereka. Sudahlah dia bersusah payah membangun gereja terbesar didunia, lengkap dengan segenap perangkat pelayanannya, tapi tak jua memampu memalingkan hati manusia dari Makkah. Sampai-sampai mereka frustasi dan mengerahkan bala tentara gajah yang merupakan armada pasukan paling elit masa itu.

Halaman:

Editor: Zabidi Sayidi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Gus Baha: Manusia Harus Ingat Zaman Dulu Bagaimana?

Minggu, 6 November 2022 | 10:45 WIB

Mengenal Al Kindi: Filsuf Muslim Pertama (1)

Kamis, 13 Oktober 2022 | 21:51 WIB

Kisah-kisah Karomah Syekh Sufi Ibrahim bin Adham

Jumat, 23 September 2022 | 21:43 WIB
X