• Sabtu, 3 Desember 2022

Sejarah Kanjeng Nabi Muhammad SAW: Masa-masa Remaja Al-Amin (9)

- Senin, 26 September 2022 | 06:17 WIB
Gambar ilustrasi. Sumber: Twitter @MuhammadMovie
Gambar ilustrasi. Sumber: Twitter @MuhammadMovie

TINEMU.COM - Sebagaimana sudah sedikit kita ulas pada edisi sebelumnya, bahwa di tahun yang sama dengan waktu Abrahah menyerang Kabah, lahirlah cucu Abdul Muthalib yang bernama Muhammad bin Abdullah.

Ketika itu Muhammad lahir dalam keadaan yatim, karena ayahnya wafat ketika beliau masih berada dalam kandungan. Abdullah sendiri adalah putra Abdul Muthalib dari istrinya yang bernama Fatimah binti Amr.

Dari Fatimah ini, Abdul Muthalib dikaruniai 8 orang anak, di antaranya; Abu Thalib; Zubair; Arwah; Atiqah; Ummu Hakim; Barrah; Umaimah; dan Abdullah.[1]

Tapi meskipun terlahir sebagai yatim, Muhammad tidak kekurangan kasih sayang. Dia begitu dicintai oleh ibu, kakek dan paman-pamannya. Pribadi Muhammad demikian memukau dan akhlaqnya begitu mulia. Penduduk Makkah demikian membanggakannya, bahkan kelak mereka memberikannya julukan Al-Amin, yang artinya sangat terpercaya.

Tapi di usianya yang masih 6 tahun, Muhammad kehilangan ibunya, dan dua tahun setelah itu – atau pada pada usia ke delapan – dia pun kehilangan kakeknya.  Setelah wafatnya Abdul Muthalib, tampuk kepemimpinan Bani Hasyim diambil alih oleh putranya yang bernama Abu Thalib.

Baca Juga: Seru! 359 Pelajar Adu Keterampilan Pembuatan dan Peluncuran Roket Air

Salah satu Riwayat mengisahkan, bahwa ketika menjelang wafatnya, Abdul Muthalib sempat memanggil dan mengumpulkan semua putranya. Pada kesempatan itu Abdul Muthalib mengatakan, bahwa dia meninggalkan dua warisan; pertama, adalah tampuk kepemimpinan Bani Hasyim; dan kedua, adalah Muhammad bin Abdullah, yaitu keponakan mereka yang masih berusia delapan tahun.

Kemudian Abdul Muthalib bertanya, siapa yang menginginkan kekuasaan dan siapa yang menginginkan hak asuh atas Muhammad bin Abdullah? Kebanyakan dari mereka memilih kekuasaan dan menolak untuk merawat Muhammad bin Abdullah. Kecuali satu, Abu Thalib.

Kakak kandung Abdullah ini maju ke hadapan ayahnya dengan penuh keyakinan, bahwa dia hanya menginginkan hak asuh atas Muhammad bin Abdullah, dan sama sekali tidak tertarik dengan tampuk kekuasaan Bani Hasyim.

Halaman:

Editor: Zabidi Sayidi

Artikel Terkait

Terkini

Gus Baha: Manusia Harus Ingat Zaman Dulu Bagaimana?

Minggu, 6 November 2022 | 10:45 WIB

Mengenal Al Kindi: Filsuf Muslim Pertama (1)

Kamis, 13 Oktober 2022 | 21:51 WIB

Kisah-kisah Karomah Syekh Sufi Ibrahim bin Adham

Jumat, 23 September 2022 | 21:43 WIB
X