temu-huma

Terapi Seni: Menyentuh Mereka yang Kerap Terlupakan di LPKA kelas 1 Tangerang

Minggu, 27 Juli 2025 | 16:31 WIB
Foto dok Rahman Seblat

TINEMU.COM - Tangerang, 26 Juli 2025Catatan Rahman Seblat. Suasana berbeda menyelimuti Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas 1 Tangerang pada Sabtu, 26 Juli lalu. Relawan dari Universitas Terbuka, bersama sejumlah praktisi, menggelar kegiatan bertajuk "Pendampingan Kesehatan Mental Anak Binaan Pemasyarakatan melalui Art Therapy sebagai Media Ekspresi dan Pemulihan."

Program yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Terbuka ini bertujuan memberikan ruang ekspresi dan pemulihan bagi anak-anak binaan.

Kegiatan dibuka oleh Kak Ulul Hidayah, koordinator dari Universitas Terbuka, yang terlihat sibuk berkoordinasi dengan petugas LPKA. Bersama Bu Indri dari bagian pembinaan anak, Kak Ulul memastikan seluruh rangkaian acara berjalan lancar dari awal hingga selesai.

Merajut Asa dengan Benang dan Jarum

Sekitar 40 anak binaan LPKA mengikuti workshop merajut yang dipandu oleh Kak Heni Mulyati. Dimulai pukul 09.00 WIB, para peserta didampingi petugas lapas dan relawan Universitas Terbuka.

Sebelum memulai praktik, peserta diminta mengisi kartu pretest untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal mereka, yang kemudian dilanjutkan dengan posttest setelah kegiatan berakhir. Kak Heny terlebih dahulu menjelaskan proses merajut, termasuk pengenalan alat dan bahan yang akan digunakan.

Selama kurang lebih dua jam, anak-anak binaan LPKA tampak antusias mengikuti kegiatan merajut. Selain diharapkan dapat menyalurkan bakat terpendam, kegiatan ini juga dirancang sebagai ajang penyaluran perasaan dan terapi psikologis.

Menurut Kathryn Vercillo dalam bukunya "Crochet Saved My Life" (2012), merajut dan merenda (crochet) telah terbukti membantu banyak orang pulih dari depresi dan trauma. Merajut dikategorikan sebagai terapi okupasi atau terapi seni ekspresif yang dapat memberikan manfaat psikologis signifikan, terutama jika dipandu oleh terapis profesional.

Efeknya disebut mirip meditasi, membantu mengurangi stres, dan mendukung pemulihan emosional.

Kertas Daur Ulang: Dari Limbah Jadi Peluang

Foto dok Rahman Seblat

Selain merajut, ada workshop lain yang tak kalah menarik: membuat kertas daur ulang. Dipandu oleh Kak Maman, workshop ini diikuti oleh 35 anak binaan. Sebelum praktik, Kak Maman menjelaskan alat dan bahan yang dibutuhkan, yang relatif tidak serumit merajut.

Peralatan utama meliputi saringan dari bahan sutra yang dibingkai sebagai penyaring, spons untuk menekan dan menyerap air, kain kasa untuk mengeringkan, dan blender sebagai alat pelumat kertas.

Workshop berlangsung selama dua jam dan menghasilkan lembaran-lembaran kertas yang kemudian dijemur hingga kering. Anak-anak binaan LPKA menunjukkan pemahaman cepat terhadap sesi pelatihan, terlihat dari kecepatan mereka memproduksi dan mencetak kertas daur ulang menggunakan saringan kayu.

Halaman:

Tags

Terkini

Aldi Taher dan Konser Dadakan Kembang Tahu

Selasa, 7 April 2026 | 00:02 WIB

Air Keras atau Asam Sulfat

Kamis, 19 Maret 2026 | 18:30 WIB

Berpuasa Ramadan Tanpa Buka Puasa Bersama

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:00 WIB

Tanda Bahaya Itu Sudah Sejak Lama Berdentang...

Senin, 9 Februari 2026 | 05:45 WIB

Mengapa Kita Tidak Pernah Berinvestasi di Bidang Seni?

Selasa, 27 Januari 2026 | 06:40 WIB

Kisah Pramugari Gadungan

Minggu, 11 Januari 2026 | 20:43 WIB