Jejak Tionghoa di Ranah Minang

- Senin, 23 Januari 2023 | 11:42 WIB
Menparekraf Sandiaga Uno berharap Festival Budaya Tionghoa bisa menjadi simbol kebhinekaan untuk membangkitkan ekonomi dan membuka lapangan kerja. (Kemenparekraf.go.id)
Menparekraf Sandiaga Uno berharap Festival Budaya Tionghoa bisa menjadi simbol kebhinekaan untuk membangkitkan ekonomi dan membuka lapangan kerja. (Kemenparekraf.go.id)

TINEMU.COM - Keberadaan orang Tionghoa di Padang, Sumatra Barat, terkait erat dengan fenomena keluarnya etnis Tionghoa dari tanah kelahiran untuk berdagang ke seluruh dunia sejak berabad silam. Salah satunya menuju Nusantara.

Luasnya persebaran etnis Tionghoa menyebabkan terjadinya proses akulturasi yang selama ratusan tahun telah melahirkan karakteristik unik dari orang Tionghoa di Nusantara, khususnya di Kota Padang.

Etnis Tionghoa perlahan mulai terintegrasi dengan kehidupan masyarakat Padang bersama suku Minangkabau, Jawa, Batak, Nias, Melayu, Sunda, dan Mentawai. Mayoritas masyarakat Tionghoa di kota seluas 695 kilometer persegi itu adalah sebagai pedagang.

Baca Juga: Hari Gizi Nasional 2023 Usung Tema Protein Hewani Cegah Stunting

Mereka banyak terkonsentrasi di kawasan Pondok, pesisir Padang dekat muara Batang Arau, sungai yang membelah kota dengan Gunung Padang di Kecamatan Padang Selatan. Wilayah pesisir menjadi favorit etnis ini ketika menjejakkan kaki di suatu wilayah untuk tujuan berniaga sebelum menyebar ke wilayah yang lebih jauh di daratan Sumbar.

Sejarawan Mardanas Safwan, dalam Sejarah Kota Padang, menyebutkan bahwa masyarakat Tionghoa sudah berdiam di Kampung Pondok selama delapan generasi. Jumlahnya berkembang menjadi sekitar 20.000 jiwa pada 2021.

Kendati tidak diketahui pasti kapan mereka mendarat di Ranah Minang, antropolog Belanda Fredericus Colombijn berkata lain. Colombijn menduga, orang-orang Tionghoa masuk ke Padang dan daerah lainnya di Sumbar hampir bersamaan dengan tibanya bangsa Belanda.

Baca Juga: Tak Perlu Tunggu Tiket, Masyarakat Umum Sudah Bisa Booster Kedua

Organisasi dagang Hindia Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) mendirikan markasnya di Padang pada abad 17 atau sekitar tahun 1664. Colombijn mengungkapkan di Patches of Padang: The History of an Indonesian Town in the Twentieth Century and the Use of Urban Space.

Halaman:

Editor: Setiyo Bardono

Sumber: Indonesia.go id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jejak Tionghoa di Ranah Minang

Senin, 23 Januari 2023 | 11:42 WIB

100 Tahun Sang Nabi, Gibran dan Sri

Selasa, 17 Januari 2023 | 18:00 WIB

Gadis Berkalender

Jumat, 13 Januari 2023 | 20:02 WIB

Magelang di Kalender

Jumat, 13 Januari 2023 | 19:44 WIB

Kalender di Tempat Sampah

Selasa, 10 Januari 2023 | 22:24 WIB

Kalender dan Pohon

Selasa, 10 Januari 2023 | 22:13 WIB

Kalender Terlambat Datang

Minggu, 8 Januari 2023 | 15:44 WIB

Rokok dan Kalender

Minggu, 8 Januari 2023 | 14:05 WIB

Pesantren, Sastra, Ziarah

Minggu, 4 Desember 2022 | 18:22 WIB

Arab Saudi: Sepak Bola dan Agama

Rabu, 30 November 2022 | 20:11 WIB
X