temu-serasi

Galanggang Arang Pita Bunga, Perayaan Budaya di Jalur Kereta

Sabtu, 18 November 2023 | 07:20 WIB
Rangkaian kegiatan budaya di Galanggang Arang Pita Bunga. (kemdikbud.go.id)

TINEMU.COM - Perayaan warisan budaya oleh anak nagari Pitalah dan Bungo Tanjung akan mewarnai Penguatan Ekosistem Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto (WTBOS). Perayaan ini merupakan rangkaian kegiatan Galanggang Arang: Anak Nagari Merayakan Warisan Dunia.

Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbudristek mengawali perayaan Galanggang Arang: Anak Nagari Merayakan Warisan Dunia dengan peluncuran (kick off) program di Padang 19 Oktober 2023.

Melansir dari laman kemdikbud.go.id, WTBOS merupakan salah satu Warisan Dunia dari Indonesia, yang ditetapkan UNESCO pada 6 Juli 2019, karena dianggap memiliki sejarah dan ilmu pengetahuan yang sangat penting bagi peradaban pada masa itu.

Baca Juga: Belajar Membuat Konten Menarik Bersama Pakar di Masterclass by Erafone 2023

WTBOS meliputi tiga zona utama. Zona A merupakan kawasan industri tambang batubara di Kota Sawahlunto. Zona B merupakan rangkaian jalur kereta api yang melewati Kabupaten Solok, Kota Solok, Kabupaten Tanah Datar, Kota Padang Panjang, Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Padang.

Sedangkan Zona C meliputi kawasan penampungan batubara di pelabuhan Teluk Bayur yang disebut Silo Gunung.

Pasar Pita Bunga

Pasar Pita Bunga adalah nama yang diberikan kepada sebuah pasar syarikat yang dimiliki bersama oleh dua nagari, yatu nagari Pitalah dan Bungo Tanjuang. Pasar yang dibelah oleh jalur kereta api tersebut memiliki sebuah stasiun kecil yang tidak lagi berfungsi.

Baca Juga: Denzel Washington Akan Tampil Sebagai Panglima Perang di Roma

Meskipun tidak termasuk situs yang ditetapkan UNESCO sebagai Warisan dunia, keberadaan Pasar Pita Bunga memiliki arti penting bagi kehidupan kebudayaan Minangkabau.

Dari sejumlah peninggalan yang ditemukan, nagari ini pernah menjadi kantong produksi tenun songket dengan kualitas yang sangat baik. Songket Pitalah memiliki corak dan karakter yang spesifik.

Selain pernah memiliki tradisi tenun songket, dari Pasar Pita Bunga ini juga berkembang kuliner dengan gastronomi yang menarik yang disebut Katupek Pitalah. Katupek (ketupat) ini dapat dinikmati di berbagai pelosok tanah air karena memiliki rasa yang sesuai dengan selera banyak orang Minangkabau.

Baca Juga: Jurassic World : Chaos Theory Siap Tayang 2024

Setiap hari Minggu yang merupakan hari pasar, di lokasi ini ditemukan sejumlah pedagang tradisional Katupek Pitalah. Penyajiannya cukup unik, sambal atau sayurnya yang terbuat rebung dan buah nangka muda, dimasak dan disajikan langsung dalam periuk belanga dari tanah liat.

Halaman:

Tags

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB