temu-serasi

Art Agenda x Art:1 : Menengok Jejak Abstrak Modern Indonesia di ArtMoments 2025

Jumat, 8 Agustus 2025 | 22:00 WIB
Suasana pengunjung di booth Art Agenda x Art:1 di ArtMoments Jakarta 2025

TINEMU.COM - Jakarta - Di tengah derasnya arus seni kontemporer global, booth Art Agenda x Art:1 di ArtMoments Jakarta 2025 justru menoleh ke belakang; ke masa keemasan seni rupa modern Indonesia, saat para maestro seperti Rusli, Fadjar Sidik, Affandi, Nashar, hingga Sudjana Kerton membentuk fondasi estetika yang hingga kini masih menggema.

Mengusung tema “Abstrak Era Modern: Di antara Jakarta dan Jogjakarta,” Art Agenda x Art:1 membawa napas segar dan historis ke tengah lanskap seni kontemporer yang kian riuh.

Di antara lebih dari 600 seniman dari dalam dan luar negeri yang berpartisipasi dalam ArtMoments tahun ini, booth ini tampil sebagai pengingat bahwa kekuatan seni tak hanya terletak pada kebaruan, tapi juga pada akar dan refleksi sejarahnya.

Menurut Inas Annisa Aulia dari Art Agenda, karya-karya abstrak modern yang ditampilkan bukan sekadar pemandangan visual, melainkan arsip hidup tentang bagaimana abstraksi tumbuh dan bertransformasi di Indonesia.

“Alih-alih mengikuti tren, kami menampilkan karya-karya abstrak era modern dari maestro-maestro asal Jakarta dan Jogjakarta. Ini adalah penghormatan pada fondasi yang membangun ekosistem seni kita hari ini,” ungkapnya.

Seorang pengunjung menyimak seksama di booth Art Agenda x Art:1 di ArtMoments Jakarta 2025

Jejak Kandinsky hingga Bandung

Perjalanan seni abstrak modern di Indonesia sendiri punya sejarah panjang. Bermula dari gagasan Kandinsky di Eropa, ide-ide Bauhaus menyebar hingga ke Hindia Belanda. Ketika Ries Mulder mulai mengajarkan prinsip-prinsip Bauhaus di Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar - cikal bakal ITB Seni Rupa - percikan abstraksi mulai muncul.

Murid-murid Mulder, seperti Ahmad Sadali, kemudian memelopori abstrak gaya Indonesia yang kental spiritualitas dan kedalaman personal.

Perkembangannya pun tak hanya bersifat visual, tetapi juga ideologis. Jakarta dan Jogjakarta bersama Bandung; menjadi segitiga utama medan seni rupa modern Indonesia.

Masing-masing dengan keunikan pendekatan: Jakarta yang kosmopolit dan terbuka pada pengaruh luar, dan Jogjakarta yang lebih reflektif dan terhubung dengan realitas keseharian rakyat.

Hal ini diperjelas dalam Art Talk yang digelar oleh Art Agenda x Art:1 dengan menghadirkan Danuh Tyas Pradipta, kurator Galeri Soemardja sekaligus dosen ITB. Dalam diskusi bertajuk “Abstrak Era Modern: Di antara Jakarta dan Jogjakarta”, Danuh membedah perbedaan pendekatan antara dua kota itu—baik dari aspek visual, filsafat penciptaan, maupun konteks sosialnya.

Karya Para Maestro Seni rupa Indonesia

Di booth Art Agenda x Art:1, pengunjung dapat menyimak karya-karya penting dari para maestro seni rupa Indonesia. Dari Odalan di Bawah Langit Mendung karya Rusli, Rhythm in Orange milik Nashar, hingga Pohon Zaitun karya Affandi yang dibuat di Italia; semuanya memancarkan energi zamannya, sekaligus menantang mata dan pikiran kita hari ini.

Halaman:

Tags

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB