temu-serasi

The Ever-Shifting Shape: Dari Depok ke Singapura, Suara Seniman tentang Masa Depan

Sabtu, 20 September 2025 | 19:29 WIB
Foto 3 karya perupa yang berpameran di Art Agenda Singapura

TINEMU.COM - Tanggal 20 September 2025, ruang putih di Art Agenda Singapura dipenuhi percakapan hangat. Berlangsung hingga 18 Oktober 2025 di 39 Keppel Road, Tanjong Pagar Distripark, #02-01, Singapura, pameran ini buka setiap Kamis–Sabtu pukul 13.00–18.00, sementara Minggu–Rabu hanya bisa dikunjungi dengan janji temu.

Acara pembukaan sendiri digelar pada 20 September pukul 16.00, di mana ketiga seniman hadir langsung menyapa pengunjung. Di balik dinding kaca Distripark itu, tiga seniman memperlihatkan apa yang telah mereka jalani selama dua bulan terakhir di Depok, Jawa Barat.

Pameran bertajuk “The Ever-Shifting Shape” (Bentuk yang Selalu Berubah) mempertemukan karya Ariel Dong, Emily Dixie Hill, dan Sean Rohr—tiga nama yang berbeda latar, tapi disatukan oleh tema residensi “Masa Depan yang Tangguh”.

Pameran ini dikuratori oleh Kurt D. Peterson, yang memberi bingkai sederhana namun kuat: setiap karya adalah peta. Tetapi bukan peta dalam arti biasa, melainkan peta yang memetakan lanskap fisik, mental, emosional, sosial, sekaligus politik. Dan seperti halnya peta, bentuknya selalu berubah—tidak pernah tetap, tak pernah selesai.

ARIEL DONG It Happened Here, 2025 acrylic and lady orchids on found ceramic 20 x 18 cm

Ariel Dong: Lingkaran Waktu dan Warna

Dalam karya Avenue of Hope dan Malam-Malam Biru, Ariel Dong menghadirkan semesta warna yang bergetar antara harapan dan kehilangan. Ariel memandang kanvas sebagai wadah, ruang untuk menampung perjalanan batin, sekaligus laboratorium kosmologis di mana waktu, warna, dan ingatan saling bertaut.

“Avenue of Hope” menyimpan paradoks: bagaimana manusia menghadapi kehilangan sambil tetap menatap cahaya makna. Kita menarik cahaya itu ke arah kita, meski kadang samar atau bahkan mustahil dipercaya. Sedangkan dalam “Malam-Malam Biru”, bunga layu di bawah cahaya bulan menjadi simbol kepergian. Warna biru gelap, merah tua, dan hijau pekat menegaskan nuansa duka, namun di sela-selanya terselip pintu terbuka: sebuah tanda transisi, bukan akhir.

Lewat spiral, lingkaran, dan pengulangan simbolisnya, Ariel seolah berbisik: linearitas waktu hanyalah hasil persepsi. Yang sejatinya ada hanyalah lingkaran—yang terus berulang, terus mengikat kita.

SEAN ROHR SIOMAY IKAN BANDUNG, 2025 acrylic and paper collage on canvas 100 x 70 cm

Sean Rohr: Membaca Gunungan Sampah

Beralih ke karya Sean Rohr, lanskap yang disuguhkan terasa lebih “membumi”—bahkan harfiah. Selama satu setengah tahun terakhir, Sean bersama Emily Hill bekerja di TPA Bantar Gebang, Bekasi. Tempat yang sering digambarkan sebagai “gunungan sampah” ini, di mata mereka, justru menghadirkan keuletan, solidaritas, dan daya hidup sebuah komunitas.

Lukisan TPST Bantar Gebang menggambarkan tumpukan sampah yang menjulang ke arah matahari terbenam. Ketebalan cat, teknik décollage, dan improvisasi material menciptakan

permukaan kanvas yang kacau tapi hidup. Dari kejauhan, ia tampak abstrak; dari dekat, ia berubah menjadi representasi figuratif dari lanskap Bantar Gebang.

Halaman:

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB