temu-serasi

Syakieb Sungkar dan Queen Cat dalam Semarak Art Jakarta 2025: catatan Zay Zabidi

Sabtu, 4 Oktober 2025 | 14:36 WIB
Syakieb Sungkar di depan karya Queen Cat (2025). Patung resin setinggi 1 meter.

TINEMU.COM - Jakarta, 3 Oktober 2025 — Di tengah riuhnya panggung seni rupa terbesar Asia Tenggara, Art Jakarta 2025, nama Syakieb Sungkar kembali mencuri perhatian. Seniman yang dikenal tidak hanya sebagai kreator, tetapi juga pemikir budaya ini menghadirkan karya terbaru bertajuk Queen Cat (2025).

Patung resin setinggi satu meter tersebut menjadi salah satu sorotan utama dalam presentasi Neo Gallery, menandai betapa seni kontemporer Indonesia tak berhenti memberi kejutan sekaligus refleksi filosofis.

Syakieb Sungkar: Seni, Filsafat, dan Queen Cat (2025)

Syakieb Sungkar kerap disebut sebagai sosok yang menjembatani antara estetika dan filsafat. Setiap karyanya tak hanya menampilkan bentuk visual, tetapi juga membuka ruang tafsir yang luas, memancing dialog lintas disiplin antara seni, budaya, hingga kehidupan modern.

Dalam Queen Cat (2025), Syakieb menghadirkan figur kucing sebagai ikon. Namun, yang tersaji bukan sekadar representasi hewan domestik penuh kelincahan, melainkan simbol yang berlapis-lapis. Kucing diangkat menjadi “ratu”, menegaskan bagaimana makhluk kecil ini merepresentasikan kekuasaan, misteri, sekaligus keluwesan menghadapi dunia yang serba cair.

“Bagi saya, Queen Cat bukan hanya soal bentuk, melainkan cermin dari sifat manusia modern: penuh kelincahan, ambisius, tetapi juga menyimpan misteri,” ujar Syakieb dalam sesi bincang seniman. Ia menambahkan, karya ini lahir dari kegelisahannya atas bagaimana kekuasaan dan identitas bekerja dalam lanskap kontemporer.

Karya terbaru Syakieb Sungkar bertajuk Queen Cat 2025 di gelaran Art Jakarta 2025

Penggunaan medium resin menandai keberanian Syakieb mengeksplorasi material yang kerap dianggap ‘dingin’. Namun, dalam tangannya, resin justru menampilkan tekstur berkilau yang memancarkan aura modernitas, seolah menegaskan bahwa seni harus mampu berdialog dengan zaman. Karya ini juga memperlihatkan kepiawaian Syakieb menggabungkan keterampilan teknis dengan kedalaman refleksi intelektual.

Tak berlebihan bila Queen Cat dipandang sebagai kelanjutan tradisi panjang pemikiran visual yang ia bangun. Dalam perjalanan kariernya, Syakieb selalu berusaha menempatkan seni sebagai medium renungan filosofis. Ia percaya, di balik estetika ada ruang kontemplasi yang lebih dalam—sebuah panggilan agar penikmat seni tidak hanya melihat, tetapi juga berpikir dan merasa.

Kehadiran Queen Cat di Art Jakarta 2025 dengan cepat memantik diskusi para kolektor dan pengunjung. Beberapa melihatnya sebagai sindiran halus terhadap obsesi manusia modern akan status. Ada pula yang membacanya sebagai alegori tentang keluwesan budaya Indonesia yang selalu bisa menyesuaikan diri dengan perubahan global. Tafsir yang berlapis ini justru menegaskan kekuatan karya Syakieb: ia tidak pernah memberi jawaban tunggal, melainkan membuka pintu dialog yang luas.

Ruang Dialog Seni Neo Gallery

Selain Queen Cat, Neo Gallery yang dipimpin Stefanus Randy Oenardi Raharjo menghadirkan beragam karya maestro lintas generasi. Randy menegaskan bahwa partisipasi mereka di Art Jakarta bukan hanya soal menghadirkan karya bernilai tinggi, tetapi juga merayakan percakapan seni yang melintasi zaman.

“Neo Gallery berupaya menampilkan perjalanan panjang seni rupa Indonesia, dari maestro klasik hingga kontemporer. Ini saatnya merayakan keragaman ekspresi sekaligus menegaskan posisi seni kita di panggung dunia,” ujarnya.

Dengan menghadirkan nama-nama seperti Abdul Aziz, Affandi, Ahmad Sadali, Lee Man Fong, Pardoli Fadli, Paul Husner, hingga Syakieb Sungkar, Neo Gallery meneguhkan diri sebagai ruang yang mampu menjembatani lintas generasi dan lintas budaya.

Abdul Aziz, pelukis kelahiran Purwokerto yang lama berkarier di Italia, menghadirkan Couple (1980). Karya minyak di atas kanvas ini memperlihatkan kekuatan Aziz menangkap sosok perempuan dan kehidupan Bali dengan sentuhan estetika Eropa.

Sementara itu, karya ekspresionis Affandi Boats and The Sun (1985) menjadi magnet tersendiri. Dengan sapuan kuas berputar khas Affandi, energi dan vitalitas kehidupan laut terekam kuat, ditawarkan dengan harga IDR 950 juta.

Dari ranah abstrak, Ahmad Sadali menghadirkan Brick Red Blocks and Remnants of Gold (1979) dan Brown Field (1985), dua karya yang menegaskan perpaduan antara spiritualitas dan eksperimentasi warna.

Halaman:

Tags

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB