Lee Man Fong, pelukis legendaris yang pernah menjadi seniman istana Presiden Sukarno, menampilkan Gold Fish—lukisan yang menggabungkan tradisi tinta Tiongkok dengan cat minyak modern.
Dari generasi lebih muda, Pardoli Fadli menghadirkan tiga karya terbaru: Senandung Selendang Kuning, Gadis Bali, dan Gen Z. Karya-karya ini mengangkat figur perempuan sebagai simbol paradoks: lembut sekaligus kuat, rapuh sekaligus penuh daya hidup.
Seniman Swiss Paul Husner melengkapi perayaan ini lewat karyanya yang merekam ritual masyarakat Bali, seperti Nature and Religion at Blanjong Tempel II (2009) dan Temple Festival in Sidemen (2007). Kehadirannya menjadi pengingat bahwa seni tak pernah mengenal batas geografis.
Art Jakarta 2025 yang digelar di JIEXPO Kemayoran Hall B3, Jakarta, berlangsung pada 3–5 Oktober 2025. Dengan menghadirkan 75 galeri dari 16 negara dan ribuan karya, ajang ini meneguhkan Jakarta sebagai salah satu episentrum seni kontemporer dunia.
Dari kolektor kawakan, seniman muda, hingga masyarakat umum, semua tumpah ruah merayakan semesta seni rupa. Pameran ini bukan hanya transaksi jual-beli, melainkan juga panggung ide, eksperimen, dan perjumpaan lintas budaya.
Di tengah semarak itu, Queen Cat (2025) karya Syakieb Sungkar berdiri sebagai simbol: seni bukan sekadar hiburan atau komoditas, melainkan refleksi dan filsafat yang terus berkembang. Seperti kucing yang lincah dan misterius, seni pun selalu menyimpan rahasia yang tak pernah habis ditafsirkan.***