Konsep-konsep seperti Pangider Bhuwana, Nawa Sanga, dan Pancawarna menjadi dasar dalam memahami bagaimana warna digunakan dan dimaknai dalam berbagai ekspresi budaya.
Lebih jauh, ia juga menyoroti bahwa pengetahuan tentang warna diwariskan melalui tradisi para sangging, di mana pemilihan warna dalam karya seperti wayang Kamasan tidak bersifat bebas, melainkan mengandung makna simbolik yang berakar pada pengetahuan turun-temurun.
Baca Juga: Warisan Sejarah di Ujung Risiko, Bencana Mengintai Cagar Budaya
Putu Fajar Arcana menambahkan bahwa warna dalam seni Bali merupakan pembawa makna sakral yang menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta. Dalam tradisi seni Bali, warna dipahami sebagai bagian dari hubungan spiritual yang hidup dalam praktik budaya masyarakat. Ia juga menekankan bahwa dalam berbagai karya seni Bali, warna tidak hadir secara kebetulan, melainkan menyimpan cerita dan simbol tertentu yang dapat dibaca sebagai narasi budaya.
Dari perspektif seni rupa, Mikke Susanto melihat bahwa warna dalam tradisi Bali merupakan bagian dari sistem simbol yang hidup dan terus berkembang. Ia menyoroti bahwa makna sakral yang melekat pada warna tetap relevan, meskipun seni Bali dibaca dalam konteks seni rupa kontemporer yang lebih bebas dan individual.
Di samping itu, Mikke juga menekankan bahwa penggunaan warna dalam berbagai karya juga merekam cerita, struktur makna, serta sistem pengetahuan yang terbentuk melalui proses sejarah, pertemuan budaya, dan transformasi praktik seni dari tradisi hingga kontemporer.
Baca Juga: Seringai Rilis Album Baru Sekaligus Tampil di M Bloc Live House 23 April 2026!
Diskusi yang berlangsung secara interaktif ini juga menjadi ruang untuk mengaitkan pemikiran dalam buku dengan konteks kekinian, khususnya dalam menghadapi arus globalisasi yang berpotensi mereduksi makna simbolik budaya menjadi sekadar elemen visual.
Melalui peluncuran dan diskusi buku ini, publik diajak untuk tidak hanya melihat warna sebagai unsur estetika, tetapi sebagai bagian dari sistem pengetahuan yang merekam perjalanan sejarah, pertemuan budaya, serta nilai-nilai yang membentuk identitas.
Kegiatan ini menegaskan pentingnya memahami budaya secara utuh sebagai fondasi dalam menghadapi perubahan zaman.**