• Jumat, 30 September 2022

Menduga Hubungan Lukisan Raden Saleh dengan Puisi Chairil Anwar

- Senin, 18 Juli 2022 | 09:33 WIB
Lukisan karya Raden Saleh "Kebakaran Hutan" (historia)
Lukisan karya Raden Saleh "Kebakaran Hutan" (historia)

Pada bagian bawah agak ke tengah, terdapat nama Raden Saleh dan angka tahun 1809. Begitulah rupa dari lukisan yang sempat membuat Lizzy Van Leeuwen menuliskan opininya di NRC Handelsblad 13 Oktober 2016 lalu (https://historia.id/kultur/articles/cara-keluarga-kerajaan-belanda-perlakukan-karya-raden-saleh-DbNZ9/page/3).

Baca Juga: Prof. Dr. Suparman Guru Besar Baru di Bidang Ilmu Matematika Terapan UAD

Lantas, apakah hanya gara-gara ada judul “Kebakaran di Hutan” maka bisa disimpulkan bahwa ada ikatan antara puisi “Suara Malam” karya Chairil Anwar itu dengan lukisan tersebut? Seperti dikemukakan di awal, belum tentu benar ada keterkaitannya. Namun, tidak ada salahnya kita mengira pada apa yang terbaca di sana untuk membuktikan kaitan itu.

Larik pertama pada puisi “Suara Malam” berbunyi; Dunia badai dan topan. Sepintas tidak ada korelasi langsung yang terjadi. Namun badai dan topan pasti menimbulkan kepanikan. Dan kepanikan itu yang tergambar dengan jelas pada lukisan “Kebakaran Hutan” itu. Tidak ada yang tidak panik. Macan tutul, macan kumbang, kijang, banteng, harimau, burung-burung, burung elang laut, semua panik gara-gara kebakaran hutan.

Larik keduanya dalam puisi itu; Manusia mengingatkan “Kebakaran di Hutan” hal ini jelas ada korelasi langsung dari keduanya.  Larik ketiga dan keempat bisa disatukan; Jadi ke mana / Untuk damai dan reda?  Ini juga masih bisa disambung-tautkan dengan lukisan. Semua binatang yang panik menginginkan kedamaian dan kebakaran yang melanda hutan tempat tinggal mereka menjadi reda.

Baca Juga: Sunmori a la Bang Nini

Larik ke lima, hanya satu kata; Mati. Ini adalah persepsi pada apa yang akan terjadi pada binatang-binatang dalam lukisan itu (kecuali mungkin para burung, tapi tidak luput jika pada sarang mereka ada anak-anak mereka yang belum bisa terbang). Tempat pelarian mereka berakhir yang tampak dalam lukisan itu adalah sebuah tebang yang tinggi dan di bawahnya ada sungai besar. Jika mereka memilih terjun pun kemungkinannya akan mati tenggelam. Chairil Anwar dalam puisi itu menyimpulkan akhir perjalanan kepanikan mereka dalam kematian.

Empat larik selanjutnya bisa digabungkan; Barang kali ini diam kaku saja / dengan ketenangan selama bersatu / mengatasi suka dan duka / kekebalan terhadap debu dan nafsu, ini juga menjadi semacam respon seseorang yang melihat peristiwa yang tergambar dalam lukisan itu. Kengerian yang ditampakkan akan membuat orang tercenung, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Lukisan yang begitu bagus dan terlihat hidup karya seorang maestro tentu membuat yang melihatnya akan merasa kagum, senang, bersuka, tapi apa yang digambarkannya membuat siapapun yang memandang akan getun, sedih, berduka.

Dalam keadaan seperti itu, barangkali yang bisa diperbuat, seperti tecermin dari apa yang diperlihatkan pada mata dua ekor banteng itu adalah kepasrahan pada apa yang akan menimpa diri mereka; pasrah. Hal ini digambarkan oleh tiga larik selanjutnya; Berbaring tak sedar / Seperti kapal pecah di dasar lautan / jemu dipukul ombak besar. Kata “berbaring” di sana digambarkan oleh posisi banteng betina yang rebah.

Baca Juga: Prof. Dr. Suparman Guru Besar Baru di Bidang Ilmu Matematika Terapan UAD

Halaman:

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengenal Omar Khayyam Matematikawan Sekaligus Penyair (1)

Minggu, 25 September 2022 | 17:51 WIB

Cerbung Zabidi Zay: Petualangan Bocah-Bocah Sorotan (35)

Minggu, 25 September 2022 | 17:17 WIB

Mari Menikmati Puisi-Puisi Cinta Penyair Persia

Senin, 19 September 2022 | 21:37 WIB

Cerbung Zabidi Zay: Petualangan Bocah-Bocah Sorotan (34)

Jumat, 16 September 2022 | 16:27 WIB

Lirik dan Kord Lagu Ojo Dibandingke

Selasa, 6 September 2022 | 14:02 WIB

Buku, Tekun, Sederhana

Selasa, 6 September 2022 | 10:05 WIB
X