Cerbung Zabidi Zay: Petualangan Bocah-Bocah Sorotan (39)

- Jumat, 4 November 2022 | 20:42 WIB
Ilustrasi cover oleh zabidi sayidi diolah dari freepik
Ilustrasi cover oleh zabidi sayidi diolah dari freepik

TINEMU.COM - Orang-orang di Kios-kios Sorotan itu boleh saja mereka serba kekurangan dan hidup dalam keterbatasan. Tapi mereka tetap tampak ceria, semangat mereka untuk bekerja keras dan halal tidaklah kendur.

Tinggal tanpa penerangan listrik atau kalaupun ada hanya sekedar lampu kecil untuk penerangan. Kamar mandi pun tak punya, mereka harus antri ke kamar mandi umum untuk mandi dan mencuci. Semuanya dijalaninya dengan bersahaja tanpa mengeluh.

Bahkan momen-momen mandi bersama bisa menjadi sarana untuk bertukar pikiran dan guyon sepantasnya. Semua tampak rukun dan baik-baik saja. Jauh dari perselisihan karena semua mencoba saling bisa memahami, bahwa mereka hidup bersama, senasib dan sepenanggungan. Meski rezeki kian terasa menjauh ketika bioskop Sorotan harus tutup.

Itu artinya tempat yang biasanya ramai karena orang-orang yang akan menonton bioskop bisa membeli rokok, jajanan kecil, cemilan yang mereka dagangkan kini tak ada lagi. Mereka hanya tinggal mengandalkan keramaian pasar yang berlangsung setengah hari.

Tapi hidup harus tetap dijalani dengan semangat dan rasa syukur. Gusti Allah mboten sare, begitu keyakinan mereka. Kepasrahan yang menjadi jalan bagi tetap terjaganya kegembiraan dan optimisme menjalani rutinitas sehari-hari.

Baca Juga: Muhammad Ade Putra Raih Juara II Tangkai Penulisan Puisi Peksiminas XVI

Menjelang sore di kafe Bharata kang Supar, Dasuki, Suwoto dan Jumari sudah selesai mandi dan bersiap. Sebentar lagi mereka akan berangkat ke rumah Pak Rahmat di kampung batik Pesindon. Hati Dasuki tak berhenti berdebar. Ini sore yang paling ditunggu di Pekalongan.

Bertemu Aida adalah anugerah yang tentu saja membahagiakan buat Dasuki. Sebelumnya ia bahkan tak pernah dengan sengaja datang ke rumah Aida ketika mereka tinggal di satu kampung. Alasannya tentu saja karena ia tak berani.

Saat ini tentu saja berbeda, ketika situasi menghendaki mereka terpisah karena Aida harus pindah jauh ke luar kota. Justru kesempatan untuk bertemu Aida bisa terjadi secara langsung dan tanpa sembunyi-sembunyi. Dasuki pun menocba memantaskan diri, berdandan sebaik-baiknya.

Halaman:

Editor: Zabidi Sayidi

Artikel Terkait

Terkini

Sastra dan Tauhid

Minggu, 8 Januari 2023 | 13:03 WIB

Bandung, Bandung, Bandung

Rabu, 4 Januari 2023 | 18:22 WIB

Pesantren, Puisi, Bahasa

Rabu, 14 Desember 2022 | 15:37 WIB

Pembaca: Dulu dan Kini

Rabu, 14 Desember 2022 | 13:19 WIB

Tanggung Jawab: Sastra dan Agama

Selasa, 6 Desember 2022 | 09:46 WIB

Resensi Buku: Ketakjuban Sepak Bola

Rabu, 30 November 2022 | 20:36 WIB

Pembaca Sepak Bola

Minggu, 27 November 2022 | 22:29 WIB

Kaum (Pemuja) Buku

Minggu, 27 November 2022 | 22:21 WIB

Merawat Budaya Melalui Diplomasi Kopi Nusantara

Senin, 21 November 2022 | 14:19 WIB
X