Cerbung Zabidi Zay: Petualangan Bocah-Bocah Sorotan (41)

- Jumat, 18 November 2022 | 22:38 WIB
Ilustrasi foto dari pixabay.com
Ilustrasi foto dari pixabay.com

Di dalam kereta dari Pekalongan menuju Semarang pikiran Dasuki terus mengawang berpindah dari pazel satu ke pazel lain. Apakah Aida tak merindukan Jogja? Begitu pertanyaan terlintas di benak Dasuki. Tentu saja tidak, bukankah Jogja bukanlah kampung kelahiran Aida?. Jawab dirinya yang lain.

Ya, Dasuki juga ingat dulu saat awal pindah ke Jogja sekeluarga dari Surabaya. Aida sudah masih sangat kecil, mungkin sekitar umur 3 tahun. Ayahnya yang pebisnis batik memang mengharusknanya pindah untuk mendapatkan peluang pasar yang lebih baik.

Menjadi pemasar batik tingkat ekspor membutuhkan kekuatan relasi serta jaringan distribusi disamping tentu saja pembeli baik lokal maupun mancanegara.

Baca Juga: Tujuh Seniman Indonesia dan India Sajikan Karya 'Invisible Dance'

Pak Rahmat sebagai pedagang yang gigih dan disiplin tentu saja dituntut harus bisa menyesuaikan dan mengikuti arus kebutuhan dan perkembangan pasar yang terus berubah dari waktu ke waktu. Sepertinya Aida betah di Pekalongan, kota itu mungkin cocok dengan dirinya. Dasuki berasumsi. Entah apa kebenarannya, tentu saja hanya Aida yang tahu dan merasakan.

Kereta memasuki stasiun Semarang, dengan menumpang angkutan umum mereka melanjutkan ke titik halte terdekat di mana biasa bis-bis yang menuju Jogja mangkal. Tak perlu waktu lama kang Supar dan ke tiga bocah sudah berada di dalam bis yang segera membawa mereka menuju Jogja.

Bis berjalan gontai menyusuri jalan yang tampak menurun dan mendaki meski tak teramat terjal. Tubuh kang Supar dan ke tiga bocah serta penumpang lain tampak bergoyang goyang. Entah kenapa bayangan Laras masih saja melintas di benak kang Supar, sejak sepulang dari rumah Pak Rahmat tempo hari.

Bagaimana tidak, kang Supar mendadak mendapat banyak cerita tentang Laras dari bu Rahmat. Tentu saja karena selama ini memang hubungan keduanya sangatlah dekat, seperti layaknya saudara. Bu Rahmat juga bercerita Mas Ananta telah dua kali mengajak Laras ke Pekalongan.

Bahkan pada kunjungan keduanya Laras hampir seminggu menginap di rumah Bu Rahmat. Sementara Pak Rahmat, mas Ananta dan mas Amri pemilik butik batik Bharata beberapa kali ke luar kota hingga Solo, Karang Anyar, Lasem untuk memenuhi permintaan kolega mereka yang meminta pengiriman batik dari berbagai kota itu secara berkala.

Baca Juga: Semar Proto, Mobil Listrik Terhemat di Shell Eco Marathon 2022

Halaman:

Editor: Zabidi Sayidi

Terkini

Sastra dan Tauhid

Minggu, 8 Januari 2023 | 13:03 WIB

Bandung, Bandung, Bandung

Rabu, 4 Januari 2023 | 18:22 WIB

Pesantren, Puisi, Bahasa

Rabu, 14 Desember 2022 | 15:37 WIB

Pembaca: Dulu dan Kini

Rabu, 14 Desember 2022 | 13:19 WIB

Tanggung Jawab: Sastra dan Agama

Selasa, 6 Desember 2022 | 09:46 WIB

Resensi Buku: Ketakjuban Sepak Bola

Rabu, 30 November 2022 | 20:36 WIB

Pembaca Sepak Bola

Minggu, 27 November 2022 | 22:29 WIB

Kaum (Pemuja) Buku

Minggu, 27 November 2022 | 22:21 WIB

Merawat Budaya Melalui Diplomasi Kopi Nusantara

Senin, 21 November 2022 | 14:19 WIB
X