Cerbung Zabidi Zay: Petualangan Bocah-Bocah Sorotan (41)

- Jumat, 18 November 2022 | 22:38 WIB
Ilustrasi foto dari pixabay.com
Ilustrasi foto dari pixabay.com

Nah waktu yang hampir seminggu itulah Laras menginap di rumah bu Rahmat. Tentu saja banyak cerita yang didengar bu Rahmat perihal kondisi Laras. Hal itu yang sebagian diceritakan bu Rahmat ke kang Supar, termasuk perihal perkawinan Laras dan mas Ananta yang belum kunjung diberi momongan.

“Ya, mesakke lho kang Supar dik Laras itu, sering di rumah sendirian karena belum diberi momongan”. Suara bu Rahmat saat bercerita terngiang di telinga kang Supar yang mencoba memejamkan mata di bangku bis yang tak terlalu penuh penumpangnya.

”Oh ya, dik Laras kirim salam kalau saya ketemu kang Supar, mulakno ini salamnya tak sampekan, ben tidak utang pesan saya” suara bu Rahmat yang grapyak itu masih jelas diingat kang Supar.

Saat itu kang Supar hanya lebih banyak mendengarkan apa yang diceritakan bu Rahmat. Ia tidak tahu meski bagaimana menanggapinya. Paling mukanya hanya tampak tersenyum dan mencoba cengengesan menutupi perasaan galau yang menyelinap.

Sudah lama kang Supar mencoba untuk melupakan tentang Laras, sejak ia menikah. Mengingat Laras hanya memperuncing kegundahan yang telah dicoba diredamnya dengan berbagai cara.

Baca Juga: Mengenal Bamboo Dome Tempat Santap Siang Pimpinan G20

Sejak ditinggal kawin Laras kang Supar memang mendadak mempunyai hobi baru; pergi tirakat ke makam-makam tua, menonton wayang atau memancing di sungai kala malam hari.

Nah Dasuki adalah kawan satu-satunya yang sering menemani melakukan hobi baru kang Supar itu, juga hal-hal eksentrik lainnya yang dulunya tak pernah dilakoninya. Kang Supar dulu adalah pekerja gigih, disiplin waktu dan tak banyak keluyuran.

Semuanya berubah sejak kang Supar ditinggal nikah. Sepertinya ia tak mau malam-malamnya hanya dipenuhi pikiran suntuk karena bayangan Laras. Maka kang Supar mencari ketenangan dengan tirakat ke Kotagede atau Imogiri. Sesekali bahkan ke Parangtritis, nenepi di pinggir pantai hingga dini hari.

Mendengarkan debur ombak di warung tepi pantai, memancing di sungai tempuran dengan bekal lampu minyak, senter, tikar dan payung juga duduk bersimpuh di dekat makam-makam tua sambil nglaras wayang kulit semalaman adalah hiburan yang bisa melebur bayangan Laras dalam benak kang Supar.

Halaman:

Editor: Zabidi Sayidi

Terkini

Sastra dan Tauhid

Minggu, 8 Januari 2023 | 13:03 WIB

Bandung, Bandung, Bandung

Rabu, 4 Januari 2023 | 18:22 WIB

Pesantren, Puisi, Bahasa

Rabu, 14 Desember 2022 | 15:37 WIB

Pembaca: Dulu dan Kini

Rabu, 14 Desember 2022 | 13:19 WIB

Tanggung Jawab: Sastra dan Agama

Selasa, 6 Desember 2022 | 09:46 WIB

Resensi Buku: Ketakjuban Sepak Bola

Rabu, 30 November 2022 | 20:36 WIB

Pembaca Sepak Bola

Minggu, 27 November 2022 | 22:29 WIB

Kaum (Pemuja) Buku

Minggu, 27 November 2022 | 22:21 WIB

Merawat Budaya Melalui Diplomasi Kopi Nusantara

Senin, 21 November 2022 | 14:19 WIB
X