Film Autobiography, Mengintip Hubungan Intim Kekuasaan dan Kekerasan

- Rabu, 18 Januari 2023 | 08:50 WIB
Foto Khudori Husnan
Foto Khudori Husnan

TINEMU.COM - Sepanjang perjalanan pulang usai nonton film Autobiography (produksi Kawan-Kawan Media, 2022), di salah satu bioskop kawasan Jakarta Selatan, benak saya dihantui tanya; tentang apa sebenarnya film yang memilih bahasa asing sebagai judulnya ini?

Setelah cukup lama  merenung sembari ditingkahi bising suara knalpot dan klakson kendaraan bermotor yang saling berebut jalur jalan, akhirnya saya menemukan titik terang  bersumber dari salah satu potongan dialog di  film Autobiography. Begini bunyinya;

"Di rumah saja. Dinikmati saja. Yang penting sehat, selamat." Kalimat ini meluncur dari  mulut ayah Rakib saat Rakib (diperankan Kevin Ardilova), menjenguk ayahnya di penjara.

Kata-kata ayah Rakib yang bernama Amir (diperankan Rukman Rosadi)  terlontar sebagai jawaban atas keresahan Rakib yang sudah tak betah tinggal dan bekerja dengan Purnawinata (Arswendy Bening Swara), seorang purnawiran jendral yang mencalonkan diri jadi bupati. Purna sosok yang sangat disegani, bermulut manis namun diam-diam ternyata sangat sadis dan bengis.

Mimikri dan Ironi Kekerasan

Kata-kata Amir adalah sebuh ironi. Bagaimana tidak!  Di tengah-tengah  rentetan  kekerasan yang diperagakan Purna di depan mata Rakib, alih-alih menyuruh Rakib pergi dari rumah Purna, ayah Rakib justru menyarankan Rakib tetap tinggal dan "menikmati" bekerja bersama Purna, meski Rakib terus menerus dihantui kecemasan dan ketakutan.

Ironi seperti disebutkan di atas ternyata harus dibayar mahal oleh Rakib. Berbagai tindak kekerasan, termasuk kecenderungan orientasi seksual menyukai sesama jenis dari Purna, pelan tapi pasti mulai diikuti dan dinikmati oleh Rakib.

Secara konseptual, kecenderungan meniru kebiasaan-kebiasaan seseorang yang berkedudukan jauh lebih tinggi dan berkuasa disebut dengan istilah mimikri.

Mimikri dalam terang teori post-kolonial yang pernah mahsyur di masa lalu,  terjadi saat pihak yang berada dalam posisi dikuasai atau ditindas akan meniru atau mengimitasi sistem nilai, gagasan-gagasan, kebiasaan-kebiasaan dan kepercayaan yang dipegang teguh oleh pihak penguasa atau penindas.

Halaman:

Editor: Zabidi Sayidi

Tags

Terkini

Sastra dan Tauhid

Minggu, 8 Januari 2023 | 13:03 WIB

Bandung, Bandung, Bandung

Rabu, 4 Januari 2023 | 18:22 WIB

Pesantren, Puisi, Bahasa

Rabu, 14 Desember 2022 | 15:37 WIB

Pembaca: Dulu dan Kini

Rabu, 14 Desember 2022 | 13:19 WIB

Tanggung Jawab: Sastra dan Agama

Selasa, 6 Desember 2022 | 09:46 WIB

Resensi Buku: Ketakjuban Sepak Bola

Rabu, 30 November 2022 | 20:36 WIB

Pembaca Sepak Bola

Minggu, 27 November 2022 | 22:29 WIB

Kaum (Pemuja) Buku

Minggu, 27 November 2022 | 22:21 WIB

Merawat Budaya Melalui Diplomasi Kopi Nusantara

Senin, 21 November 2022 | 14:19 WIB
X