“Kami ingin memastikan bahwa jurnalis video tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memahami kode etik jurnalistik, verifikasi informasi, dan teknik bercerita yang menarik,” ujar Chandra, Ketua AJV. “Perubahan cepat yang terjadi sangat kompleks dan tidak jelas formatnya, sebagai akibat dari kondisi VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity). Jalan keluarnya adalah dengan merumuskan ulang cara penyampaian informasi agar tetap relevan dengan teknik jurnalistik yang tepat,” ungkap Syaefurrahman Albanjary. "Harapan saya media jurnalistik berbasis online yang berkualitas tetap muncul. Misalnya tidak hanya mengandalkan laporan langsung, tetapi juga menyertakan investigasi mendalam," tambahnya.
"Dinamika sosial media dalam konteks perkembangan era digital saat ini selayaknya membuat kita harus berpikir bagaimana menghasilkan pendapatan dengan memanfaatkan keterampilan yang dimiliki oleh teman-teman AJV, mulai dari kemampuan jurnalistik hingga videografi.Kita harus beradaptasi dengan perubahan teknologi ini dengan menyediakan pelatihan tentang penggunaan Teknologi Baru, Digital Marketing dan Platform Media Sosial.AJV menekankan pentingnya etika jurnalistik dalam pembuatan video berita. Organisasi ini memberikan panduan dan pelatihan tentang etika jurnalistik kepada anggotanya, sehingga masyarakat dapat mempercayai informasi yang disampaikan oleh jurnalis video,” kata Rully Nasrullah yang akrab disapa Kang Arul.
"Dengan semakin banyaknya masyarakat yang mengandalkan video sebagai sumber utama informasi, jurnalis video berperan strategis dalam membentuk opini publik, mengawasi kebijakan pemerintah, serta mendokumentasikan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah. Dan kami tetap memperjuangkan hak-hak jurnalis video, mulai dari perlindungan hukum hingga kesejahteraan dan kebebasan pers," kata Haris Djauhari, Pembina AJV. Informasi lebih lanjut dapat mengunjungi laman https://ajv.id **