temu-hikmah

Orang Buta dan Anak Gembala, Pelajaran Tentang Etika dan Empati

Jumat, 5 Desember 2025 | 10:33 WIB
Gambaran Orang Buta dan Anak Gembala (Grok)

TINEMU.COM - Dalam fabel Aesop “Orang Buta dan Anak Gembala”, seorang pria buta berjalan di padang bersama tongkatnya. Ia meminta bantuan seorang anak gembala untuk menunjukkan arah. Namun sang anak, melihat kesempatan untuk mengolok-olok, justru memberikan petunjuk palsu.

Ia menuntun si buta menuju jurang, berharap melihatnya tersandung atau jatuh. Namun sebelum mencapai tepi jurang, orang buta itu mendengar suara hewan, angin, dan perubahan medan yang tidak sesuai dengan arah yang dijanjikan.

Ia pun berhenti dan berkata, “Aku memang buta, tetapi aku tidak bodoh.” Sang anak gembala malu, sementara orang buta melanjutkan perjalanan dengan kewaspadaan yang lebih besar.

Baca Juga: Hanung Bramantyo Remake Film karya Majid Majidi, 'Children of Heaven'

Walau sederhana, cerita ini menyimpan refleksi moral yang tajam: tentang bagaimana kita memperlakukan mereka yang rentan, bagaimana kekuasaan dapat disalahgunakan, dan bagaimana etika keadilan menuntut lebih dari sekadar tidak berbuat jahat.

Dalam etika tradisional, salah satu prinsip dasar adalah bahwa kekuatan membawa tanggung jawab. Seorang anak yang bisa melihat memiliki kekuasaan sosial atas orang yang tidak bisa melihat.

Ketika ia memilih menggunakan kekuasaan itu untuk mengejek dan menyesatkan, ia bukan hanya berperilaku jahat, tetapi juga melanggar prinsip moral universal: bahwa mereka yang lebih kuat harus melindungi yang lebih lemah.

Baca Juga: Kolom Buku Belum Berlalu: Menteri dan Buku

Pemikiran ini sejalan dengan filsafat etika dari Immanuel Kant, yang menyatakan bahwa manusia harus diperlakukan sebagai tujuan pada dirinya sendiri, bukan alat untuk hiburan atau keuntungan.

Anak gembala menjadikan orang buta sebagai objek permainan—sebuah pelanggaran terhadap martabat manusia. Kant menyebut tindakan seperti ini bukan hanya salah, tetapi tidak bermoral secara mendasar, karena melanggar kewajiban universal untuk menghormati manusia lain.

Cerita ini juga menyentuh etika pertolongan. Ketika seseorang meminta bantuan, kita diberi peluang untuk melakukan tindakan moral. Menurut etika kebajikan Aristoteles, tindakan tersebut dapat menunjukkan karakter kita: apakah kita lebih dekat pada aretē (kebajikan) atau pada cacat moral.

Baca Juga: Persembahan Uwais PIctures 'Ikatan Darah' Tayang Duluan di JAFF 2025!

Sang anak gagal pada titik ini. Ia memilih kesenangan sesaat di atas tanggung jawab moral. Di sisi lain, orang buta dalam cerita ini justru menunjukkan kebijaksanaan: walau rentan, ia tidak sepenuhnya menyerahkan diri pada belas kasihan orang lain.

Ia menggunakan pengalaman, pendengaran, dan intuisi untuk menyelamatkan diri. Ini mengajarkan bahwa kehati-hatian adalah bentuk kebajikan bagi mereka yang hidup dalam ketidakpastian.

Dalam konteks modern, fabel ini mengingatkan bahwa empati adalah fondasi etika sosial. Masyarakat yang baik bukanlah masyarakat tanpa orang rentan, tetapi masyarakat yang tidak mengorbankan mereka.

Halaman:

Tags

Terkini

Serigala yang Memilih Kembali ke Hutan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:41 WIB

Ketika Opini Publik Dianggap Lebih Esensial

Sabtu, 21 Maret 2026 | 13:44 WIB

Bilal: Suara Azan yang Bergetar oleh Cinta

Kamis, 12 Maret 2026 | 22:26 WIB

Puasa: Ibadah Rahasia yang Disimpan Langit

Kamis, 5 Maret 2026 | 21:19 WIB