Baca Juga: Film 'Dalam Sujudku' Angkat Tema Pasangan yang Akhirnya LDM
Baik itu dalam dunia digital, ekonomi, atau hubungan antar manusia, mereka yang memiliki kelebihan apa pun—pengetahuan, akses, kekuatan, atau kesempatan—harus menggunakan kelebihan itu untuk kebaikan, bukan manipulasi.
Fabel “Orang Buta dan Anak Gembala” bukan sekadar peringatan agar tidak bercanda keterlaluan, tetapi ajakan untuk memahami tanggung jawab moral kita terhadap sesama.
Etika bukan hanya persoalan besar seperti hukum atau politik, tetapi tindakan kecil sehari-hari: apakah kita memilih membantu, mengejek, atau membiarkan.
Dalam setiap interaksi, kita diberi pilihan untuk menjadi seperti anak gembala atau seperti orang bijak yang menjaga martabatnya. Dan dalam pilihan kecil itulah etika keseharian dibangun.**
Artikel Terkait
Dua Buah Ember dan Pemikiran Stoik
Tentang Gagak yang Ingin Jadi Merak, Keaslian Diri, dan Kehidupan
Serigala Tua dan Realitas Kekuasaan dalam Filsafat
Seekor Ayam Jantan dan Mutiara, dan Filsafat Nilai
Rubah dan Gagak, serta Retorika juga Sanjungan Palsu