Baca Juga: Humaniora Digital, Langkah Modernisasi Manuskrip Naskah Kuno ke Seni Pertunjukan
Pengalaman belajar kadang tak selalu indah demi pintar. Tagore mengingat: “Pelan-pelan cahaya siang yang kemerahan meredup. Suara-suara petang yang baur terdengar bagaikan dengungan khayali yang bergema di atas kota setan dari bata dan semen.”
Kita berimajinasi waktu dan peristiwa dimiliki anak.
Tagore dalam jebakan rutin dan keinginan panen kenikmatan cerita. Tagore membuka masa lalu: Dalam kamar belajar, sebuah lampu minyak telah menyala. Guru Aghor telah datang dan pelajaran-pelajaran bahasa Inggris dimulai. Buku bacaan yang bersampul hitam tergeletak di meja menunggu aku datang. Sampulnya telah terlepas, halaman-halamannya kotor dan sedikit robek. Aku telah berusaha menuliskan namaku dalam bahasa Inggris dengan huruf besar. Ketika membaca, aku terangguk, kemudian tersentak bangun lagi dengan mengejut, tetapi lebih banyak yang hilang ketimbang yang terbaca.”
Baca Juga: Kumpul ASIK Blackmores: Awal yang Baik untuk Buah Hati
Tagore sebagai bocah bosan belajar. Ia merasakan itu siksa berulang setiap hari.
Ia menginginkan selesai: memiliki malam dan menikmati cerita. Waktu bergerak, ia pun ingin bergerak dalam cerita ketimbang pelajaran-pelajaran menjemukan.
Tagore masih memiliki indah dan gairah saat malam: “Ketika aku terantuk-antuk pergi ke ranjang akhirnya aku memiliki waktu yang bisa kusebut milikku sendiri. Di sana, aku mendengarkan kisah-kisah abadi putra raja yang berpetualang melintasi dataran yang luas tak berjejak.”
Ia memilih memasuki cerita-cerita. Pada masa berbeda, ia menjadi pencerita ampuh di dunia. Begitu.**