TINEMU.COM - Bandung, kota yang dikenal dengan julukan Paris van Java, memiliki keunikan tersendiri dalam sejarah perkotaan di Indonesia.
Berbeda dengan kota-kota besar lainnya seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya yang memiliki kawasan Pecinan yang khas, Bandung justru tidak memiliki jejak Pecinan yang menonjol.
Mengapa demikian?
Sejarah mencatat bahwa pada era kolonial Belanda, pemerintah menerapkan kebijakan Wijkenstelsel, yaitu pemisahan kawasan berdasarkan etnis. Namun, Bandung dirancang sebagai kota kolonial dengan nuansa Eropa yang kuat, sehingga kehadiran komunitas Tionghoa dibatasi.
Baca Juga: Pram di Jalan Bahasa Indonesia
Pemerintah kolonial lebih mengarahkan mereka untuk tinggal dan berdagang di kota-kota pelabuhan seperti Batavia dan Cirebon. Kebijakan ini menghambat terbentuknya Pecinan yang terpusat di Bandung.
Namun, bukan berarti komunitas Tionghoa tidak berkembang di Bandung. Sejumlah kawasan seperti Jalan Gardujati, Cibadak, dan Sudirman menjadi saksi bisu bagaimana etnis Tionghoa tetap beradaptasi dan membangun kehidupan mereka.
Di sana, berdiri toko-toko kelontong, restoran legendaris, hingga pasar yang ramai dengan aktivitas perdagangan. Meski tanpa gerbang merah khas Pecinan, kehadiran mereka tetap nyata dalam denyut ekonomi kota.
Baca Juga: Pengisah Duka
Bagi beberapa warga keturunan Tionghoa di Bandung, absennya Pecinan memiliki dua sisi. Ada yang merasa kehilangan identitas budaya yang terpusat, tetapi ada pula yang melihat ini sebagai bentuk integrasi yang lebih dalam dengan masyarakat Bandung secara luas.
Perkembangan kota yang pesat juga turut mengubah lanskap sosial. Bandung yang dahulu didominasi oleh tata kota kolonial kini bertransformasi menjadi pusat urban yang modern.
Kawasan-kawasan yang dulu dikenal sebagai kantong komunitas Tionghoa kini lebih berbaur dengan perkembangan bisnis dan perkantoran. Namun, warisan mereka tetap hidup dalam bentuk kuliner, tradisi, dan kisah-kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Baca Juga: Elliot James Reay Sukses Hangatkan Jakarta
Absennya Pecinan di Bandung bukanlah sekadar ketiadaan kawasan fisik, tetapi cerminan dari sejarah yang membentuk kota ini.
Bandung adalah contoh bagaimana komunitas dapat bertahan dan berkembang tanpa harus terkotak-kotak dalam satu wilayah tertentu.
Artikel Terkait
Jelang Ramadan Kota Para Wali ”Harar” di Ethhiopia Adakan Pembacaan Puisi Islam
Obituari: Emilia Contessa
Belasan Tradisi Imlek di Tiongkok yang Jarang Diketahui, Apa Saja?