TINEMU.COM - Masa lalu itu masih bisa ditemukan dan dipegang. Kita sedang menaruh diri dalam masa 1950-an. Konon, masa itu membuktikan gairah Pramoedya Ananta Toer menulis cerita-cerita.
Masa lalu dalam kertas. Ia mudah rusak dan hancur. Kita masih menjadi saksi dan pembaca sebelum hilang. Di majalah Zenith, 15 Februari 1951, kertas-kertas mau rusak itu tetap terbaca.
Kita menikmati cerita berjudul “Jang Sudah Hilang”. Nama pengarang ditulis Pramudya Ananta Tur. Para pembaca condong memilih penulisan nama pengarang: Pramoedya Ananta Toer.
Cerita sedih, sejak awal sampai akhir. Semula, Pram bercerita Kali Lusi di Blora, berlanjut mengajukan nasib para manusia dirundung beragam masalah. “Dan didalam hidup ini, kadang-kadang aliran jang deras menjeret tubuh dan nasib manusia,” tulis Pram.
Baca Juga: Elliot James Reay Sukses Hangatkan Jakarta
Arus deras di Kali Lusi bisa mengakibatkan segala hal hilang, termasuk manusia.
Tokoh “aku” dihadirkan sebagai bocah menggemari dongeng-dongeng. Ia menganggap ibu atau bunda adalah pendongeng ulung. Ibu memberi kasih sepanjang hari.
Kesabaran dan tutur kata ibu menjadikan “aku” patuh. Ibu tampak menghindari marah, berpihak bujukan dan pengharapan. Ibu dalam ketabahan meski duka makin memberat.
Tokoh “aku” tak terlalu mengerti “dongeng” sedang dicipta keluarga meski mengetahui ibu pernah menangis.
Ibu justru tak ingin si anak menangis berkepanjang gara-gara sedih, kecewa, jengkel, atau resah. Pram menampilkan sosok ibu tahan derita dan memuliakan anak.
Baca Juga: Hiburan Menarik dan Dekorasi Khas Imlek Warnai Stasiun Kereta Cepat Whoosh
Kita mengutip: “Aku masih ingat, waktu itu aku menangis terus. Karena rumah kami masih djauh dari aliran listrik bila malam datang murunglah suasana rumah kami. Bunda membawa aku keluar rumah. Embun itu membuat badanku dingin dan lelah. Dan dingin embun itu pula jang telah menjiram kekesalan hatiku. Rupa-rupanja aku kegerahan tadi. Dan di pelataran itu bunda mentjium daku dan berbisik dalam bahasa jang lunak dan lembut.”
Bunda penuh kasih. Ia pun bersenandung berharap anak perlahan tenang dan damai. Ingatan tokoh “aku” dalam dekapan bunda: “Kemudian aku dengar bunda menjanji. Aku tak berontak lagi. Dingin embun dimalam hari itu menjedapkan bunji njanjian bunda.”
Kita merasa berdekatan dengan mereka di Blora. Para tokoh dan suasana ingin meredakan duka.
Baca Juga: Inilah 5 Destinasi Seru untuk Rayakan Imlek
Artikel Terkait
Pohon: Tulisan dan Kamus
Kabar Gembira! Kusala Sastra Khatulistiwa Digelar Lagi Tahun Ini
Pelajaran (Membaca) Ayam
Masjid: Puisi dan Arsitektur