TINEMU.COM - Pada suatu masa, para pengarang masuk ke sekolah-sekolah. Mereka berada di kelas atau aula untuk ceramah, berbincang, dan membaca puisi. Konon, babak keramaian sastra di sekolah itu sulit terulang. Dulu, agenda bersejarah itu dinamakan “Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya”. Ikhtiar mengakrabkan ribuan murid dengan sastra (Indonesia) diselenggarakan oleh Horison dan pemerintah.
Di buku untuk edisi SBSB (2008), kita menemukan puisi berjudul “Sembako” gubahan Iman Soleh. Puisi terbaca oleh murid-murid SMP dan SMA. Puisi tak bermaksud menjadi pelajaran serius atas nama bahasa dan sastra Indonesia. Puisi mengandung pengisahan dan kritik berhak dimengerti murid-murid agar (makin) mengerti nasib Indonesia.
Baca Juga: Mantan Pelatih Timnas STY Main Film Komedi!
Puisi berkisah ayam. Iman Soleh menulis: ayamlah yang mempertemukan malam dan pagi/ sebelum malaikat turun ke bumi/ membangungkan bilal sebelum pagi/ ayam berkokok di mana-mana menyambut matahari. Orang-orang masih mengakui peran ayam sebelum matahari terbit. Suara ayam menandakan waktu. Pengertian itu dimiliki para leluhur, terajarkan melalui omongan atau tulisan. Di desa-desa, ayam mudah terlihat dan suara khas terdengar. Situasi berbeda di kota saat orang-orang sulit bertemu ayam gara-gara pola permukiman.
Para pembaca puisi seolah mendapat “katalog”. Puisi panjang mengajak murid-murid belajar (lagi) ayam dengan pelbagai sumber. Larik-larik buatan Iman Soleh dapat menjadi pemicu dialog murid-murid bertema ayam. Kita simak: “banyak negeri, bendera, kota, arah angin berlambangkan ayam.” Para murid boleh lekas melacak keterangan-keterangan dalam ensiklopedia atau menggunakan mesin “pencarian” di gawai. Mereka mungkin bergirang memuliakan beragam ayam di dunia.
Baca Juga: Bagdad Jadi Pusat Peradaban Dunia di Era Kekhalifahan Abbasiyah di Irak
Iman Soleh sedang merangsang penasaran murid-murid: “ayam lambang kesuburan, kejantanan, pengetahuan, ketekunan, dan kasih sayang.” Larik itu kadang diterima murid-murid secara berbeda. Mereka terbiasa menikmati telur atau daging ayam. Di atas meja makan, ayam dimengerti makanan. Mereka belum terbiasa membuat renungan-renungan panjang bermula lambang. Ayam itu kelezatan. Murid-murid adu gengsi berkaitan merek-merek atau tempat-tempat menikmati hidangan ayam. Lambang dan renungan berada di belakang.
Di pelajaran bahasa daerah (Jawa), ayam atau “pitik” biasa digunakan dalam pengenalan filosofi hidup. “Pitik” dalam “paribasan” menuntun murid-murid mendapat umpama dan pemaknaan. Di buku berjudul Paribasan (1956) susunan Dalil Prawirodihardjo, pembaca menemukan kalimat-kalimat mengandung “pitik”. Kita membaca: “Pitik trondol diumbar ing pedaringan”. Di situ, ada pengertian tentang “orang miskin” mendapat amanah hal-hal paling disukai. Di pengertian berbeda, “orang miskin” diganti “orang jahat”. Murid-murid mendapat pengajaran sambil berimajinasi tampilan “pitik trondol” tanpa bulu.
Baca Juga: Benteng Cordova Spanyol, Simbol Kejayaan Peradaban Islam Andalusia
Pada masa 1950-an, buku-buku pelajaran membaca untuk murid-murid di sekolah dasar biasa mengenalkan ayam. Di buku berjudul Beladjar Membatja 2 susunan MH Rambitan dan KJ Danckaerts, murid-murid diajak membaca: ini bapa si didi/ dari mana ia datang?/ ia datang dari pasar/ ia membawa ajam/ untuk siapa ajam itu?/ untuk si didi. Bapak membuat anak bergembira dengan cara membelikan ayam agar dipelihara. Bacaan lain: dimana ajam si mina/? Si mina tidak ada ajam/ ajam itu makan padi. Isi buku pelajaran mengenai ayam memudahkan mereka dalam lancar membaca dan mendapat pemahaman cara pemeliharaan ayam.
Di buku Beladjar Membatja 3, murid-murid membaca percakapan antara penjual dan pembeli tetap berkaitan (satai) ayam. Bocah: “Hai, tukang satai, kemarilah! Saja hendak membeli satai. Berapa harga sataimu?” Pedagang: “Murah sekali. Sesen setusuk.” Bocah: “Enakkah sataimu?” Pedagang: “Enak sekali!”. Bocah: “Uangku sepuluh sen.” Pedagang: “Saja beri engkau dua tusuk dan ketupat dua buah. Boleh engkau makan sampai kenjang.” Murid-murid belajar mengenai jenis-jenis olahan daging ayam. Konon, satai ayam itu makanan digemari anak-anak. Makanan dijamin lezat bikin ketagihan.
Baca Juga: Mengenang Thariq bin Ziyad dan Era Kejayaan Islam Selama 8 Abad di Spanyol
Di rumah atau warung makan, anak-anak mengetahui beragam makanan. Telur atau daging ayam menjadi idaman meski harga (lazim) mahal. Pengetahuan mereka tentang ayam itu santapan. Mereka memerlukan penjelasan pangan agar mengetahui cara mengolah dan menghidangkan. Pelajaran lanjutan tentu gizi.
Buku lama itu nostalgia. Pada abad XXI, murid-murid belajar ayam dengan kemajuan-kemajuan dan ketakjuban. Mereka dalam kemanjaan teknologi dan hiburan. Di film-film kartun, mereka melihat tokoh-tokoh ayam. Di pelbagai tempat, ayam itu logo dalam industri dan hiburan. Mereka masih menemukan ayam dalam buku-buku pelajaran meski persoalan ayam dianggap menarik dalam industri hiburan, permainan, atau perfilman.
Baca Juga: Pernah Berjaya 8 Abad di Spanyol Kini Populasi Muslim Tinggal 4 Persen. Kenapa?
Artikel Terkait
Malam dan Pagi
Bercerita Makan, Jepang dan Indonesia
Pohon: Tulisan dan Kamus
Kabar Gembira! Kusala Sastra Khatulistiwa Digelar Lagi Tahun Ini