Masjid: Puisi dan Arsitektur

photo author
Bandung Mawardi, Tinemu
- Jumat, 24 Januari 2025 | 05:51 WIB
Ilustrasi Masjid (Poe AI)
Ilustrasi Masjid (Poe AI)

TINEMU.COM - Jumlah masjid di seantero Indonesia bertambah tapi belum ada kepastian cerita-cerita bertambah dan biografi bermasjid makin panjang. Di sekian kota dan desa, masjid memang menjadi pengisahan atau pemberitaan di media sosial. Sajian bertema masjid meski tak ada permufakatan membuat dokumentasi kolektif secara berkesinambungan.

Sekian tahun lalu, ikhtiar membesarkan tema masjid dilakukan Nasaruddin Umar. Penjelasan mengenai masjid berwujud buku sederhana berjudul Pemberdayaan Umat Berbasis Masjid (2021). Kini, kita membaca buku itu lagi mumpung Nasaruddin Umar berperan sebagai Menteri Agama RI. Selama lima tahun, masjid berhak mendapat perhatian besar dengan beragam kepentingan: agama, pendidikan, sosial, seni, teknologi, dan lain-lain. Suguhan buku dari Nasruddin Umar menjadi rangsang bagi kita melek masalah-masalah dan segala pengharapan di masjid.

Baca Juga: Siap Tayang 29 Januari, 'Perayaan Mati Rasa' Tawarkan Kisah Emosional

Pengamatan Nasaruddin Umar: “Pertumbuhan jumlah masjid dan mushala dalam dekade terakhir ini berbanding lurus dengan fenomena peningkatan kualitas spiritual dalam masyarakat.” Jumlah bertambah dapat menjadi fakta. Pendapat itu memihak pembentukan masa depan berpijak masjid. Peringatan pun diajukan Nasaruddin Umar: “Keberadaan masjid sudah telanjur dipersepsikan sebagai rumah ibadah yang sakral, suci, dan penuh daerah terlarang. Akibatnya, masjid hanya familiar untuk kalangan tertentu yang dipersepsikan sebagai ahli ibadah mahdhah… Kultur masjid kita kurang familiar dengan orang-orang yang bisa mengganggu ketenangan beribadah. Itulah sebabnya anak-anak sering dimarah-marahi atau terusir oleh pengurus masjid. Padahal, ada sebuah qaul mengatakan: ‘Teriakan anak-anak di masjid adalah doa.’” Kita boleh berdebat atas pengamatan dan pendapat Nasurddin Umar.

Baca Juga: Pelajaran (Membaca) Ayam

Pada saat menjadi Menteri Agama RI, pemahaman Nasuriddin Umar mengenai masjid pasti bertambah. Kita berharap puisi turut menjadi referensi. Pada 2018, Radhar Panca Dahana menggubah puisi berjudul “Masjidku Untukmu”. Ia memberi renungan keinsafan: abadabad berlalu/ masjid setia memanggilmu// kamu, cuma tersipu/ menggeser tubuhmu. Masjid mencipta panggilan dan pengisahan dalam hitungan waktu sekian abad. Panggilan dari masjid kadang sekadar “terjawab” dengan “menggeser tubuh”, bukan kedatangan untuk ibadah dan beragam peristiwa.

Kesadaran makna manusia (hamba) dan masjid untuk pengabdian kepada Allah berlanjut dalam puisi berjudul “Masjidmu Untukku”. Radhar Panca Dahana suguhkan puisi pendek saja tapi sedikit menggelitik: aku bertanya/ masjid menjawab/ masjid bertanya/ aku tertawa. Di situ, kita merasakan ada “hubungan” atau “keterjalinan” aneh. Masjid itu pusat dan pemberi jawab saat manusia dirundung bingung.

Baca Juga: Mantan Pelatih Timnas STY Main Film Komedi!

Radhar Panca Dahana berperan sebagai pengarang. Ia bukan pembicara di mimbar-mimbar agama. Persembahan puisi-puisi bertema masjid itu pengalaman dan pemaknaan. Kita memastikan berbeda dengan cara ungkap para pengurus masjid atau orang-orang rajin menunaikan shalat lima waktu di masjid. Puisi mungkin tak diakrabi pengurus atau jamaah di masjid. Kita justru ingin menggoda mereka agar sejenak “mengunjungi” puisi untuk renungan.

Puisi berjudul “Dimana Masjid”, menempatkan Radhar Panca Dahana sebagai hamba ingin merampungkan ragu. Kita membaca: ketika subuh datang/ angin diam// saat adzan dilantang/ aku berjalan/ mencari masjid/ mencariMu/ tiada temu// subuh kembali datang/ adzan pun terbilang// tapi/ jengkal tak lagi sisa/ masjid tak bertanah/ tak juga berumah/ ruang musnah// keuali satu/ menjadi bisu/ di hatimu. Radhar Panca Dahana dalam “arsitektur batin” untuk mencari, menemukan, dan mengalami kehadiran di masjid. Puisi pantas tercatat dalam gejolak pengalaman bermasjid selain edaran foto hamba dan masjid biasa beredar di media sosial.

Baca Juga: Bagdad Jadi Pusat Peradaban Dunia di Era Kekhalifahan Abbasiyah di Irak

“Arsitektur batin” berbeda dengan arsitektur saat kita memandangi masjid dan memasuki masjid dengan takjub. Kini, beragam arsitektur masjid di Indonesia mengesankan pengaruh dari pelbagai sumber, terejawantah sejak ratusan tahun lalu. Masjid memang arsitektur dalam pengenalan identitas, pesona, dampak, misteri, dan lain-lain.

Kita membuka buku berjudul Arsitektur Masjid (2009) susunan Achmad Fanani. Ingatan atas silam: “Jangan dibayangkan bahwa masjid rumah Rasul (Masjid Nabawi) ketika pertama kali dibangun hadir dengan dipenuhi perlengkapan ibadah keagamaan. Tidak ada pemikiran tentang mimbar, mihrab, minaret, kolam wudhu, menara, dan lain-lain… Bahkan dalam konsepnya, masjid Rasul merupakah konsep terbuka. Artinya, konsep ini secara alamiah tumbuh bersama dengan pengertian masyarakat muslim yang bersama-sama Rasul memberikan tekanan kegiatan guna membentuk pengertian-pengertian tersebut. Ia terbentuk oleh proses dialog antara Nabi dengan para sahabat, dengan situasi sosial dan iklim, dengan teknologi, dengan bahan yang tersedia, dengan petunjuk-petunjuk Allah, dan terwujud dalam proses waktu. Berjalan wajar dan sederhana. Masa lalu itu mengingatkan sejarah dan perubahan-perubahan terjadi dalam kehadiran beragam arsitektur masjid di pelbagai tempat dan beda masa.

Baca Juga: Benteng Cordova Spanyol, Simbol Kejayaan Peradaban Islam Andalusia

Kini, kita mudah melihat masjid-masjid di Indonesia dengan arsitektur (ingin) megah, agung, dan anggun. Pengenalan dan pemahaman masjid merujuk arsitektur “tampak” berbeda dengan “arsitektur batin”. Kita kadang merasa asing saat berada dalam masjid gara-gara bentuk. benda, warna, dan suasana. Kita pun merasa betah saat menemukan kesalarasan dalam masjid.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X