TINEMU.COM- Saat album Turbo dirilis, sediikit yang mengira ini adalah hasil kompromi Judas Priest dengan label Columbia Records. Mereka minta kepada band yang sudah terbentuk di Birmingham ini sejak 1969 untuk mengurangi tempo, bahkan menggunakan synthesizer seperti grup musik lain yang saat itu tengah berkibar. Sekedar contoh, saat itu lagu-lagu rock populer seperti Van Halen (1983) dengan intro Jump-nya menjadi ikonik dan masih terngiang sampai sekarang-kemudian ada Mama dari Genesis yang memang diawali synthesizers-juga Europe The Final Countdown. Columbia menginginkan hal itu kepada Judas Priest.
Sebelumnya di label yang sama Judas Priest sudah merekam Screaming for Vengeance (1982) dan Defenders The Faith (1984). Kedua album tersebut selain sukses secara komersil, juga dinilai makin mengukuhkan mereka sebagai band heavy metal yang keras.
Tapi menjelang proses produksi album berikutnya, Turbo, pihak label kurang menyetujui format yang sama diulang lagi. Menerimanya sebagai tantangan kreatif, Judas Priest menyetujuinya. Rob Halford bahkan sempat menyodorkan ide untuk menjadi dobel album sekalian, dengan pembagian di sesi pertama bernuansa melodic rock dan sesi berikutnya lagu-lagu bertempo lebih keras. Ide tersebut ditolak dengan alasan biaya produksinya lebih mahal dan kurang komersil. Akibatnya beberapa lagu yang sudah dikerjakan seperti Ram It Down, Hard as Iron, Love You to Death dan Monsters of Rock ditangguhkan.
Baca Juga: Mentilin, Satwa Endemik Bangka Belitung yang Berpotensi Jadi Insektisida Alami
Album Turbo akhirnya jadi dirilis 7 April 1986 dan dinilai sebagai karya mereka yang lebih mengarah glam metal yang saat itu disukai. Namanya juga disederhanakan menjadi Turbo setelah sebelumnya mereka mengusulkan judul Twin Turbos (karena ide semula dobel album). Tema lagunya juga diubah menjadi romansa muda mudi laki-laki dan perempuan (Hot for Love, Wild Nights Hot and Crazy Days,Locked In), ketimbang tema sebelumnya yang terinspirasi dari cerita fiksi ilmiah dan fantasi.
Turbo ternyata disukai bahkan masuk Top 100 Billboard. Lagu Reckless di album ini bahkan sempat ditaksir label untuk dimasukkan juga ke dalam album soundtrack film Top Gun. Tapi Judas Priest menolak karena kurang yakin film tersebut bakal laris. Sedangkan mereka lebih menyukai lagu Turbo yang digunakan dalam soundtrack film yang dibintangi Tom Cruise itu. Untuk pertama kalinya ada lagu mereka menggunakan kibor synthesizer, Out in The Cold.
Album Ram It Down pun akhirnya jadi dirilis dua tahun kemudian (13 Mei 1988). Album yang berisikan separuh materi yang semula untuk album Turbo ini memuat lagu cover terkenal milik Chuck Berry yang diaransemen jadi heavy metal, Johnny B Goode. Menyimak lagu-lagu di album Ram It Down yang semula adalah lagu-lagu bertempo keras untuk dobel album Twin Turbos, memang terasa cepat dibandingkan Turbo (simak lagu Heavy Metal, Come and Get it). Persamaannya dengan Turbo di album Ram It Down juga ada lagu dengan menggunakan kibor synthesizer, Blood Red Skies. Album bergambar tangan terkepal yang berarti "benturkan!" ini juga menandai berakhirnya permainan dramer Judas Priest, Dave Holland-setelah kemudian ia digantikan Scott Travis- di album Painkiller (1990).**
Artikel Terkait
'Sound of White Noise' Album Perubahan Anthrax
'Thunder', Sisi Lain Gitaris Duran Duran
'The Seventh One' dan 'Fahrenheit', Dua Album Terbaik TOTO
Yang Terpendam Itu Adalah KUNI