TINEMU.COM- Dengan 14 album studio rekaman dan lusinan album kompilasi juga album live- agak sulit menjawab pertanyaan "mana album terbaik" dari grup yang terbentuk sejak 1977 di Los Angeles,California-yang juga disukai Ahmad Dhani dan menginspirasi banyak band rock Indonesia lainnya di era 1990-an ini.
Apa pasal? Karena band ini sudah terbentuk di era akhir tahun 1970-an,mendekati 1980-an bahkan masih ada sampai 1990-an, TOTO mengalami hampir empat kali evolusi perubahan warna musik kendati semuanya masih berakar pada rock. Selain itu TOTO lahir ketika era musik saat itu bergantung pada popularitas radio, yang kerap disebut radio friendly. Mereka harus meramu musik yang disukai radio saat itu agar menyatu dengan kreasinya. Kendati tak sampai perubahan musiknya seekstrim Queen yang semula hard rock- bahkan (pernah) menjadi synth pop, tapi punya lagu cepat yang menjadi inspirasi Metallica (lagu Stone Cold Crazy)-atau Genesis yang tadinya eksperimental progresif rock (Peter Gabriel) menjadi pop rock (era Phil Collins), pun Pantera yang tadinya heavy metal jadi thrash metal-TOTO makin kuat menjadi blue print pop rock/sweet rock atau Adult Oriented Rock saat merilis kedua album tersebut.
TOTO terbentuk oleh para personilnya yang di Amerika dijuluki The Hired Gun atau musisi studio berstatus freelance. Si para "Hired Guns" ini juga sibuk wara-wiri jadi session player di berbagai panggung musik. Era 1977-1981 album Hydra/Turn Back musiknya agak sedikit funk, soul 1982-1985 album Toto IV/isolation jazz/rock, 1985-1988 Fahrenheit/The Seventh One pop rock/AOR, dan 1991-1997 hard rock. Era 1988-1990 dan 1997-2001 sepertinya hanya meneruskan legacy yang sudah lama terbentuk.
Baca Juga: 'Thunder', Sisi Lain Gitaris Duran Duran
Grup band ini seolah tak terlalu mengandalkan "kekuatan" front man alias vokalis utama-disebabkan latar belakangnya yang terdiri dari musisi studio. Vokalis utama bahkan sering berganti. Selain itu, anggota band lainnya juga pernah menjadi vokalis utama di beberapa lagu seperti Steve Lukather (Rosanna) dan David Paich (Africa). Suara vokalis tidak terlalu khas, datar saja, bahkan bisa digantikan personil lainnya. Hanya fans TOTO sungguhan mampu membedakannya.
Orang menyukainya karena musiknya yang easy listening, apalagi sering wara-wiri di berbagai tangga lagu radio dan media cetak saat itu (Billboard,Cash Box,dll). Bukan karena sosok personilnya yang flamboyan atau aksi panggung gila-gilaan. Penampilannya di panggung yang suka unjuk gigi berimprovisasi justru lebih mirip musisi jazz yang casual,bukan musisi rock dengan rambut gondrong jaket kulit berpaku.
Album Fahrenheit (1986) dan The Seventh One (1988) -kebetulan keduanya dinyanyikan Joseph Williams musisi anak kandung komposer film John Williams-menghasilkan hits-hits yang masih terdengar samoai sekarang. Lea, I'll be Over You,Without Your Love, Anna, sampai nomor upbeat seperti Pamela, Stop Loving You,Home of The Brave, dan banyak lagu seolah menjadi signature yang mengukuhkan grup ini walau sudah terbentuk sejak 1977. Jika dilihat dari rentang waktunya cukup lama band (1977-1986) yang kini hanya menyisakan Steve Lukather sebagai anggota asli TOTO dari awal berdirinya - menguatkan jati dirinya sebagai band pop rock. Tentu akan ada sanggahan bukankah Rosanna atau Africa sudah ada sebelum itu? Tapi Joseph Williams di album Fahrenheit dan The Seventh One mampu menulis lebih banyak lagu jika dibandingkan dengan vokalis terdahulunya Bobby Kimball atau Fergie Frederiksen.
Baca Juga: Single Terbaru D Masiv Ajak Kita Senantiasa Bersyukur
Mungkin di TOTO IV cetak biru pop rocknya sudah terbentuk, tapi masih kurang kuat sehingga runtuh di album selanjutnya Isolation (1984). Williams selain satu-satunya personil TOTO lama yang masih mau melanjutkan TOTO, tak heran kolaborasinya dengan Steve Lukather berlanjut kembali ke zaman sekarang dengan menjual nostalgia. Fahrenheit dan The Seventh One meninggalkan pengaruh Williams yang masih kuat, kendati TOTO tak lagi diperkuat Joseph Williams setelah itu.
Unsur jazz,funk,soul nyaris tak ada lagi seperti di album Hydra/Turn Back. Kedua album ini juga seolah memberi contoh, di industri rekaman saat itu. Supaya album rock meraih pendengar lebih luas, yaitu menyelipkan satu atau dua lagu balada yang easy listening. Sisanya boleh tetap keras. Pengaruh Lukather yang kemudian jadi vokalis utama di album Kingdom of Desire dan Tambu (1991-1997) masih meneruskan legacy TOTO era Fahrenheit/The Seventh One.**