TINEMU.COM - Transformasi digital yang dipicu oleh kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini tidak hanya mengubah cara bisnis beroperasi, tetapi juga mendefinisikan ulang strategi pemasaran modern. Dalam situasi ini, pelaku industri dituntut untuk lebih adaptif agar tidak kehilangan daya saing.
Melihat tantangan tersebut, MCorp menggelar HK Special Masterclass #S7E1 yang mengangkat tema Lean & Agile — Think: Navigate Marketing 7.0 in AI Era di MarkPlus Main Campus, Jakarta pada 14 April 2026. Acara ini menjadi ruang diskusi strategis bagi para profesional untuk memahami arah baru dunia marketing.
Founder and Chair of MCorp, Hermawan Kartajaya menekankan bahwa pelanggan kini telah berevolusi menjadi augmented human, yakni individu yang mengandalkan AI dalam mengakses informasi dan mengambil keputusan.
Baca Juga: Survei Agoda: Gen Z Lebih Suka Liburan Singkat dan Eksplorasi Destinasi Lokal
Namun, di balik kemudahan tersebut, terdapat risiko besar berupa hilangnya diferensiasi ketika manusia terlalu bergantung pada AI dan menggunakan pendekatan yang seragam.
“Ketika semua orang menggunakan AI dengan cara yang sama, maka diferensiasi akan hilang. Di sinilah pentingnya peran manusia untuk tetap berpikir unik dan strategis,” ujar Hermawan.
Karena itu, perusahaan didorong untuk mengadopsi prinsip lean and agile, yakni membangun tim yang lebih ramping namun memiliki kecakapan tinggi dengan dukungan teknologi, sehingga mampu menjadi augmented human yang adaptif dan memiliki daya tawar kuat.
Baca Juga: Liburan Hemat dari Jakarta ke Purwakarta, Tarif Mulai Rp8.000
Lebih lanjut, Hermawan mengajak audiens untuk memahami dinamika industri melalui lima drivers of change, yaitu teknologi, politik dan legal, ekonomi, sosio-kultural, serta market.
Dari sisi teknologi, adopsi AI semakin masif dengan tren menuju kedaulatan data melalui pembangunan infrastruktur lokal. Secara politik, stabilitas nasional dinilai cukup kuat meskipun tetap dipengaruhi dinamika global.
Dari sisi ekonomi, kondisi Indonesia relatif aman dan terjaga di tengah ketidakpastian geopolitik. Sementara itu, secara sosio-kultural terjadi pergeseran orientasi ke China yang tercermin dari perilaku konsumsi hingga penggunaan platform digital.
Baca Juga: Jelang Tiga Dekade Berkarya, ADA BAND Rilis Selalu Ada
Dari sisi market, konsumen semakin selektif, terutama pada momen seperti Ramadan, sementara perusahaan mulai mengadopsi strategi lean and agile untuk menjaga efisiensi dan daya saing.
Hermawan juga menekankan pentingnya keseimbangan antara CIEL dan PIPM dalam menghadapi era AI. PIPM merujuk pada Productivity, Improvement, Professionalism, and Management, yaitu kemampuan dasar untuk bekerja secara efektif, terstruktur, dan profesional.
Artikel Terkait
Surabaya Marketing Week 2025 Dorong Kolaborasi dan Pemanfaatan AI untuk Perkuat Daya Saing Ekonomi
MarkPlus Institute Kenalkan ‘Jurus Jitu Jualan’ di Surabaya Marketing Week 2025
MarkPlus Institute Hadirkan JuJitJu di Manado Marketing Festival 2025
Entrepreneurial Marketing Dorong Transformasi Industri Hospitality di Indonesia
Marketing 7.0: Era Baru Pemasaran di Tengah Gempuran AI