Sementara itu, CIEL merupakan singkatan dari Creative, Innovation, Entrepreneurship, and Leadership, yang menggambarkan kemampuan untuk berpikir kreatif, berinovasi, memiliki inisiatif layaknya seorang entrepreneur, serta mampu memimpin.
Baca Juga: Dee Lestari Kenalkan Kabarku, Pemanasan Menuju Album Solonya yang Akan Rilis 2026
Dengan kata lain, PIPM adalah soal ‘bekerja dengan baik’, sedangkan CIEL adalah soal ‘berpikir dan bertindak lebih dari sekadar pekerja’.
“Kita tidak hanya PIPM, tetapi juga harus CIEL. Tidak cukup hanya produktif, kita juga harus kreatif, punya inisiatif, dan berani menciptakan nilai,” kata Hermawan.
Menurutnya, di era AI saat ini, profesional tidak cukup hanya rapi dan efisien dalam bekerja, tetapi juga harus mampu menghadirkan diferensiasi agar tetap relevan dan tidak tergantikan oleh teknologi.
Baca Juga: Jakarta Kolaborasi dengan Busan: Wujudkan Kota Sinema
Dalam sesi yang sama, Iwan Setiawan, Chief Operating Officer (COO) MCorp sekaligus penulis buku Marketing 7.0 mengingatkan agar marketer tidak terjebak dalam penggunaan AI secara berlebihan.
“Jangan sampai marketer tertipu oleh halusinasi AI. Generative AI bisa menghasilkan informasi yang tidak sepenuhnya berbasis data, sehingga tetap membutuhkan kontrol dan pemikiran kritis dari manusia,” ujarnya.
Iwan juga menyoroti risiko ketergantungan yang dapat membuat marketer menjadi pasif. Selain itu, Iwan mengungkap adanya jebakan performance trap, di mana banyak brand terlalu fokus pada kinerja jangka pendek hingga menggunakan strategi yang seragam dan kehilangan keautentikan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa konsumen saat ini telah berubah menjadi augmented human dengan pola perilaku baru, seperti aggressive filtering, social fragmentation, dan selective frugality, yang menuntut pendekatan pemasaran yang lebih personal, relevan, dan berbasis pengalaman.***