temu-niaga

WOW Brand 2026 Angkat Isu Humanisasi Brand di Era AI

Jumat, 17 April 2026 | 11:12 WIB
Hermawan Kartajaya, Founder and Chair of MCorp saat menjadi narasumber dalam The Eleventh WOW Brand 2026. (MarkPlus)

TINEMU.COM - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang semakin pesat membawa perubahan besar dalam dunia pemasaran. Di tengah dominasi teknologi AI, sisi kemanusiaan justru dinilai semakin penting.

Hal inilah yang menjadi sorotan utama dalam The Eleventh WOW Brand 2026, seminar branding terbesar yang kembali digelar di The Ballroom, Djakarta Theater.

Mengusung tema “Branding in the Age of AI”, acara ini menjadi ruang diskusi strategis bagi para pelaku industri untuk memahami arah baru branding di era digital yang semakin kompleks.

Baca Juga: Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Teknologi AI membuat banyak hal jadi lebih cepat, lebih presisi, dan lebih terukur. Namun percepatan ini juga menuntut brand untuk tetap menjaga koneksi emosional dan sisi manusiawi dalam setiap interaksi dengan konsumen.

Dalam forum ini, arah baru branding di era AI diperkuat melalui pemaparan konsep terbaru dari buku Marketing 7.0: A Guide for Thinking Marketeers in the Age of AI yang baru saja dirilis secara global pada 7 April 2026 di Amerika Serikat.

Buku ini merupakan bagian terbaru dari seri Marketing X.0 yang membahas bagaimana marketer perlu beradaptasi di tengah peran AI yang semakin dominan. Dalam sesi pembuka, Iwan Setiawan, COO MCorp, menekankan pentingnya keseimbangan antara teknologi dan sentuhan manusia agar merek tidak kehilangan relevansi.

Baca Juga: Tiket Early Bird Ludes dalam Satu Jam, Manager Fest 2026 Angkat Tema Future of Work

Sebagai salah satu penulis buku Marketing 7.0, Iwan menyoroti tantangan autentisitas di mana otak manusia modern kini telah mengembangkan kemampuan penyaringan agresif terhadap konten yang terasa terlalu kaku.

“Otak manusia modern sudah punya aggressive filtering. Begitu melihat sesuatu yang bernuansa iklan atau terlalu 'rapi', kita otomatis mengabaikannya. Merek yang mau menunjukkan apa adanya dirinya, lengkap dengan kekurangan dan kelemahannya, justru itulah yang paling sukses di media sosial,” ujar Iwan.

Meskipun AI sangat unggul dalam mengolah data, teknologi ini tetap memiliki batasan dalam menciptakan karakter merek yang unik. Ia memperingatkan bahwa AI cenderung memberikan hasil yang normatif sehingga berisiko membuat merek kehilangan identitasnya.

Baca Juga: People Sweet Kenalkan Karya Terbaru Final Destination via ROBLOX!

“AI itu adalah sosok generalis, dia tahu segala hal tapi dia tidak bisa jadi spesialis karena dia tidak punya bias. Branding itu butuh bias, butuh keberanian mengambil posisi unik. Jika strategi branding hanya diserahkan pada AI, hasilnya akan sangat aman (safe), dan kita berakhir menjadi brand yang rata-rata,” tutur Iwan.

Acara ini menghadirkan dua sesi panel diskusi yang menyoroti peran krusial teknologi dan kemanusiaan dalam pemasaran modern. Kedua sesi ini menghadirkan para pakar dan praktisi dari berbagai industri yang telah terbukti sukses membangun reputasi brand mereka.

Halaman:

Tags

Terkini

Aldi Taher dan Unique Genuine Content

Kamis, 9 April 2026 | 15:02 WIB