TINEMU.COM-Denting piano dalam komposisi yang tidak biasa disuguhkan oleh pianis sekaligus komponis, Aryo Adhianto. Ia merilis album keduanya berisi 12 lagu, bertajuk Nol ke Mall. Album tersebut juga menghadirkan vokal Anda Perdana dalam pengalaman sonik yang berbeda di lagu Siklus Medusa dan Hiperrealita.
Selain itu ada Tanya Ditaputri di lagu Menangga, Meninggi dan Kejarlah Aku Sampai Tidak Mampu dan Ican Harem di lagu Pemungutan dan Basement 2. Selain vokalis, Aryo juga mengajak bassist bernama Nabil Favian Hilliard di lagu Basement 2 dan Hiperrealita.
“Dari para kolaborator, yang paling menarik buat saya adalah mencoba me-sintesiskan pitch dan tekstur secara elektronis suara Bang Anda yang karakternya, bagi telinga saya, pure rock dan folk. Mungkin hal ini. Belum pernah dilakukan sebelumnya,” terang Aryo.
Baca Juga: Pendiri Radio Elshinta, Mas Yos Pelopor Pengembangan Ekosistem Musik dan Penyiaran
Ada poin menarik dari lagu Siklus Medusa yang merupakan ekspresi dari bagaimana mall di Jakarta masih eksis saat ini dan bahkan makin menggurita dari zaman ke zaman, mengingat ia sudah hadir lebih dari 50 tahun lalu. Bahkan seakan kebal dari segala perilaku berbelanja online yang marak pada 5-10 tahun belakangan ini.
“Saya pinjam istilah siklus medusa dari metabolisme spesies ubur-ubur yang mampu meregenerasi dirinya berkali-kali, sehingga dianggap tidak bisa mati. Hal ini tercermin pada lirik ‘Aku disini… Tak pernah mati… Aku mengabdi… Terima kasih.’ Satir ini saya hadirkan sebagai refleksi atas perilaku suatu generasi yang ingin terus memegang kendali zaman, dengan cara meraksasa dan menggurita dalam rangka mengkerdilkan yang ada di sekitarnya. Namun biar bagaimanapun, saya (dan banyak warga Jakarta lainnya) masih merasa nyaman berada dalam pelukan raksasa-raksasa tersebut,” kata Aryo.
Nol ke Mall adalah catatan sporadis terhadap fenomena mall di Jakarta yang dialami, dirasakan, dan ditelusuri melalui perspektif seorang Aryo Adhianto. “Karya-karya yang terakumulasi ini bukanlah percobaan untuk merangkai soundtrack tentang mall, melainkan cuplikan refleksi terhadap berbagai peristiwa dan gejala urban yang - secara langsung maupun tidak - lahir dan tumbuh akibat hadirnya mall,” ungkap Aryo.
Baca Juga: Face Recognition Kini Hadir di 19 Stasiun, Simak Cara Pendaftarannya Melalui Access by KAI
Lebih lanjut Aryo mengatakan kerangka pemikiran dan proses kreatif Nol ke Mall terilhami buku Delirious New York dan Junkspace karya Rem Koolhaas yang spekulatif, personal, dan satir. Kesatuan musik disini adalah respon terhadap arsitektur mall yang acapkali dikonotasikan negatif dalam konteks estetika yang adiluhung; anggaplah semacam antitesis.
Mall, baik dalam sifat arsitektural maupun fungsionalnya, umum dianggap sebagai objek monolitik komersial dan transaksional yang total. Dalam Nol ke Mall, Aryo mengusulkan untuk mempertimbangkan perjalanan mall yang beririsan dengan peristiwa sosial dan budaya yang layak untuk diperhitungkan sebagai faktor penentu keberlangsungan hidup bermasyarakat di lanskap multidimensi seperti kota Jakarta.
“Proyek album kedua ini sebenarnya berawal dari kumpulan puisi/syair/infografis yang saya kerjakan dari tahun 2022 dan rencananya akan dicetak menjadi zine di bawah penerbit Tendency Zine di akhir tahun 2024. Dari tulisan-tulisan ini kemudian baru mendapat ide secara musikalnya dan saya garap menjadi 12 lagu. Keterlibatan Harsya Wahono (Hawe), Direktur Artistik label Divisi 62, sangat sentral dalam pembuatan album ini sebagai mixing dan mastering engineer. Lalu juga Fandy Susanto, desainer grafis dan Direktur Artisitik dari Tendency Zine, yang juga membantu dalam pengerjaan cover album ini. Mereka berdua juga sebagai lawan dan teman diskusi dalam membahas tema sentral dari album ini yaitu mall di Jakarta,” jelas Aryo.**
Artikel Terkait
Siap-siap, Maroon 5 akan Konser di Jakarta Februari 2025!
DEWA 19 Featuring All Stars 2.0 Siap Digelar di GBK Januari 2025
Visinema Group Resmi Luncurkan BION Studios Untuk Berikan Ide Segar Film Indonesia
Lagu Baru Summerlane Lanjutkan Spirit Pop Punk