Sesaji Bhumi Sambut Art Love U Fest 2024 di JDC, catatan Zay Zabidi

photo author
Zabidi Sayidi, Tinemu
- Minggu, 3 November 2024 | 22:15 WIB
Prescon bersama Dirut JDC Nurul Syahri, Mikke Sutanto, Gie  Sanjaya dipandu Bambang Asrini
Prescon bersama Dirut JDC Nurul Syahri, Mikke Sutanto, Gie Sanjaya dipandu Bambang Asrini

TINEMU.COM – Ada yang berbeda dengan paras loby depan gedung Jakarta Design Center sejak Jumat pagi 1 November 2024. Sebuah karya instalasi dari rotan kreasi Joko Avianto membingkai sisi bagian atas. Sementara di kanan dan kiri pintu dua panel besar bertuliskan Art Love U Fest 2024 warna merah dan daftar nama 46 seniman berwarna biru di bagian kiri.

Tatkala para tamu masuk ke dalam, mata mereka dicegat sebuah karya berbentuk gunungan dengan benang serat akrilik diberi nama Rajut Kejut “Sesaji Bumi”. Karya itu sekaligus juga bisa difungsikan untuk swafoto dengan lubang seukuran wajah di bagian atas.

Dalam konferensi pers yang dilaksanakan jelang opening Art love U sore yang dipandu oleh Bambang Asrini itu dirut JDC Nurul Syarif menyatakan bahwa merespon perubahan tagline JDC menjadi “premium hub of art, design community & commerce”, maka Ajang Art love U akan digelar setiap tahun.

Semua itu dilakukan untuk mendukung perkembangan seni, budaya dan kreativitas yang membanggakan, yang akan memajukan dunia pariwisata Indonesia maka salah satunya melalui kegiatan Art Love U” Fest 2024 ini.

Acara preskon juga dihadiri oleh tim kurator yaitu Mikke Susanto dan Gie Sanjaya yang memaparkan tentang makna Cinta dan Seni yang diangkat dalam Festival seni tahun 2024 ini. Menjadikan seni sebagai bagian dari perekat kembali keintiman antar saudara, keluarga, komunitas.

"Art Love U" meruntuhkan dinding pemisah antara seni rupa, desain, musik, film, sastra, hingga teknologi digital. Cinta, dalam konteks festival ini, dilihat sebagai bahasa universal yang tidak mengenal batasan, baik dari segi media maupun gagasan.

Orang-orang mulai berdatangan memenuhi undangan perayaan festival seni rupa yang akan segera dibuka Jumat sore (1 November 2024) itu. Kegembiraan memuncak dengan kehadiran wamen kebudayaan Giring Ganesha yang ikut membuka acara.

“Jadi sejak kecil saya sudah sering melihat lukisan, bahkan sebelum belajar menyanyi saya terlebih dahulu belajar melukis. Jadi lukisan dan gedung JDC ini punya impact yang luar biasa bagi kehidupan saya,” ungkap Giring dalam sambutannya.

“Terima kasih atas undangannya. Di masa jabatan saya yang masih dua minggu ini, saya bisa nostalgia dan percaya bahwa cinta, semesta selalu membawa kita ke orang-orang baik yang selalu ada di sekitar kita,” imbuhnya.

Dalam rangkaian acara pembukaan juga dimeriahkan dengan performance art oleh seniman SP Hidayat yang merespon gerak tarian di atas panggung dengan sapuan kuas dengan cat minyak di atas kanvas ukuran besar. Tak sampai satu jam karya SP Hidayat pun selesai dan tuntas.

SP Hidayat perform di opening Art Love U Fest 2024
SP Hidayat perform di opening Art Love U Fest 2024

Pada agenda kali ini panitia penyelenggara sepakat untuk menghadirkan para perupa, didukung dengan sejumlah peserta non seniman salah satunya Vera Eve Lim. Seniman tersebut berasal dari wilayah-wilayah seni utama yakni Jakarta, Bandung, Bali, dan Yogyakarta.

Di antaranya ada seniman yang merupakan lulusan ataupun mengajar di perguruan tinggi seni dan ada pula perupa yang belajar secara mandiri. Karya-karya mereka menunjukkan gejala baru dalam perkembangan seni saat ini. Daya tarik tersebut diantaranya mengusung topik dari dan tentang fenomena sosial budaya yang terjadi sehari-hari, hingga kisah masa lampau yang disuguhkan secara kekinian.

Sejumlah pelukis yang turut menggelar karya di antaranya mengusung tema tentang alam, budaya populer, ataupun yang kritis terhadap keadaan sekitar kita. Nama-nama seperti Subandi Giyanto, SP Hidayat, Aldriel Arizon, Zeta Ranniry Abidin, Yeni Fatmawati, Syakieb Sungkar, Tato Kastareja, Zamrud Setya Negara serta beberapa lainnya merupakan para profesional yang populer saat ini. Karya-karya lukisan yang ada dalam pameran ini mengajukan ragam gaya dari yang bergenre simbolik, figuratif, semi abstrak, hingga yang abstrak murni.

Ada pula sejumlah pematung yang membawa karya-karyanya dalam festival ini sebagai upaya untuk mengenali pengetahuan bahan hingga memberikan pada kita pengenalan tentang kejadian sosial, religi yang ada di masyarakat.

Karya Alfiah Rahdini berjudul "Sailor Moonah The Miniature" yang mengaitkan ide tentang keperempuanan dan budaya pop dan dunia religiusitas. Karya-karya patung lainnya tentu juga sangat menarik seperti karya Dolorosa Sinaga, Basuki Prahoro, Hendratno, Khusna Hardiyanto, Cyca Leonita  dan lainnya. Mereka membawa ide yang mampu membuka banyak cakrawala menarik dalam festival ini.

Tidak lupa pula karya seni instalasi yang diusung oleh sejumlah nama seperti Joko Avianto, , Bintang Tanatimur, Setya Utami, maupun Billmohdor yang terkait dengan berbagai ragam ide yang dielaborasikan dengan bahan-bahan yang unik dan berserakan saat ini. 

Karya-karya instalasi ini membuka pemikiran tentang upaya kolaboratif terhadap berbagai ide, persoalan di masyarakat, sampai upaya untuk menyelesaikannya. Sebagai bentuk karya seni dengan bahan yang sangat bervariasi menyebabkan karya instalasi mampu mendekatkan ide atau ekspresi seniman dengan penontonnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Zabidi Sayidi

Tags

Rekomendasi

Terkini

X