TINEMU.COM - Sore itu Rabu 6 November 2024, di ruang Flamboyan Lt 6 Gedung Jakarta Design Center Perupa Syakieb Sungkar bersama Yeni Fatmawati bercerita tentang proses kreatif dalam berkarya, dalam acara artist talk “Cinta dan Passion” yang berlangsung cukup meriah. Acara itu dipandu oleh Bambang Asrini.
Kedua perupa yang berlatar belakang berbeda, meski keduanya pernah menamatkan Pendidikan di ITB. Yeni Fatmawati dalam kesempatan bincang sore itu di antaranya mengatakan bahwa setelah mengalami fase terberat dalam perjalanan kehidupannya pada akhirnya ia harus mencintai takdir. Apakah takdir itu baik ataupun buruk. Apakah ia membahagiakan atau menyedihkan.
Sementara Syakieb Sungkar Seniman, pengamat seni, dan kolektor seni. Ia menamatkan S1 di ITB dan S2 di STF Driyarkara. Mulai melukis tahun 2019 dan saat ini sudah melakukan 3 kali pameran tunggal dan 15 kali pameran bersama. Selain melukis, ia seorang wirausahawan dan menjadi pemimpin redaksi Jurnal Filsafat Dekonstruksi.
Dalam sesi artist talk sore itu Syakieb di antaranya berbagi pengalaman tentang perlunya seorang seniman memahami strategi marketing 4 P dalam berkarya, yaitu Produk, Price, Place dan Promotion.
Syakieb Sungkar juga memaparkan argumen kenapa tidak pernah menorehkan tanda tangan dalam karyanya. Perupa itu memberi alasan bahwa tanda tangan hanya akan mengotori karya.
Bagaimana kelak orang bisa membedakan karyanya atau bukan?.
Syakieb menambahkan bahwa ia hanya akan mengikuti ajang pameran lukisan jika penyelenggaranya kredibel, seperti menyiapkan katalog, melibatkan kurator dan diadakan di tempat yang representatif. Dengan begitu karya-karyanya yang dipamerkan akan terdokumentasi dengan jelas dan bisa dilacak dalam jejak digital.
Perkembangan karya terakhir Syakieb dalam ajang Art Love U fest 2024 di Jakarta Design Center 1-12 November 2024 adalah ia memamerkan serial The cat Family.
Dalam dua karya yang terpajang di Art Love You ini salah satu karyanya menggambarkan kehidupan surealis seorang ayah yang berkepala kucing. Ia bercengkrama di taman dengan istri dan sepasang anaknya. Karya ini menggambarkan kehidupan perupa sendiri yang diamsalkan dengan kucing. Sebagai refleksi kangen terhadap anak yang tinggal berjauhan di kota lain.
Di masyarakat kita, banyak orang yang kemudian mengambil kucing sebagai bagian dari anggota keluarga, menjadikannya pengganti pacar yang hilang, teman yang tiada, dsb. Dalam hal ini kucing sebagai pengganti dari anak si perupa yang tidak serumah lagi karena sudah hidup mandiri.
The Cat Family secara umum mencerminkan kehidupan kaum urban yang kesepian, sehingga memungut binatang sebagai teman untuk bercakap-cakap dan bagian dari cara melampiaskan gairah untuk merawat dan memelihara. Fenomena ini sekarang dikenal sebagai Anabul (anak bulu).
Binatang berbulu seperti kucing dan anjing, sekarang menjadi bagian dari industri besar makanan dan asesoris serta kedokteran hewan. Komunitas Anabul menyatu dalam gaya hidup kaum urban, yang mempunyai banyak member aktif.
Komunitas tersebut kerap mengadakan kegiatan sosial seperti memberi makan hewan secara masal di akhir pekan dan menawarkan binatang yang cacat untuk diadopsi. Karenanya, kucing menjadi bahan inspirasi yang kaya untuk dikembangkan menjadi serial karya yang berkelanjutan.