TINEMU.COM - Dibalik wajah seorang pribadi, terekam jejak sebuah bangsa. Suka duka, senyum dan tangis. Kepedihan dan kebahagiaan, perjuangan dan daya tahan. Kesatuan dan keragaman. Setiap wajah adalah pantulan wajah yang lain. Pada wajah mereka kita menemukan diri kita. Terekam jejak harapan, penolakan dan persetujuan.
Menghadirkan kembali wajah mereka adalah tindak penerimaan pada kehadiran bersama, pernyataan bahwa kita telah mengarungi air yang sama, berjalan pada tanah yang sama, bercakap dengan bahasa yang sama.
Itulah penggalan catatan kuratorial Taufik Rahzen dalam katalog pameran bertajuk National Portrait Gallery, Seabad Para Kalangwan yang telah dibuka Minggu malam 22 Desember dan akan berlangsung hingga 31 Desember di Balai Budaya Jakarta.
Memasuki pintu masuk ruang pamer Balai Budaya Jakarta mata kita langsung tertuju pada lukisan portrait AA Navis, wajah yang telah tenggelam dalam ingatan kembali menyeruak dan menyeret ingatan pada sosok yang masyhur dengan cerpen Robohnya Surau Kami yang terbit dalam majalah Kisah pada tahun 1955.
Cerpen yang menggambarkan ironi dan kritik tajam terhadap praktik beragama yang kosong dari esensi spiritual, menggugah pembaca dengan sindiran yang kuat. Karya ini kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa seperti Inggris, Jerman, Prancis, dan Jepang, menjadikannya salah satu cerpen Indonesia yang paling dikenal secara internasional.
Memasuki sisi ruang lain di pameran ini kita akan saksikan wajah-wajah yang akrab dengan ingatan kita seperti; Mien Sudarpo, Subagio sastrowardoyo, Ali Audah, Sitor Situmorang, Ahmad Sadali, Ali Akbar Navis, Ali Murtopo, AS Dharta, Umar Wirahadikusumah, Ilen Suryanegara, Liberty Manik, Djamil Suherman, Sofia WD, Nasyah Djamin, Pramudya Ananta Tour, Ali Sadikin.
Ada dua sosok tokoh perempuan yang terpajang dalam pameran National Portrait Gallery Seabad para kalangwan kesaksian Paul Hendro yaitu Mien Sudarpo dan Sofia WD yang dibuka berptepatan dengan perayaan hari Ibu.
Sofia WD atau Sofi, selain dikenal sebagai artis yang telah membintangi ratusan film layar lebar, di waktu mudanya turut mengambil bagian dalam perjuangan kemerdekaan. Ia tergabung dalam kesatuan tentara FP (Field Preparation) berpangkat sersan mayor dan ikut bergerilya di daerah Limbangan di kaki Gunung Haruman, Jawa Barat.
Syahnagra, seniman dan pengelola Balai Budaya menyatakan sangat berbahagia dengan adanya pameran ini. Seniman ini kan tempat untuk membangun kebahagiaan. Seperti kini kita lihat seniman Paul Hendo dia telah membuat sejarah.
Ini sebuah pameran yang penting, bagaimana kita bisa melihat kembali sejarah bangsa ini. Saat kita melihat AA Navis misalnya kita akan kembali menguak sejarah panjang dibelakangnya. Kayu tanam dan daerah Sumatera Barat.
Nah ini yang telah coba dibangun kembali oleh Paul Hendro. Sejarah yang benar tentang semua sosok di belakang para tokoh bangsa. Tanpa membangun narasi, tanpa merangkai teks, karya portret Paul Hendro telah membangun ingatan akan sejarah, dan karya itu dipamerkan di Balai Budaya sebuah tempat yang sarat dengan sejarah, nah ini tentu membahagiakan saya.
Sementara itu Paul Hendro sendiri mengungkapkan; ”Potret bukan sekedar wajah. Ia adalah saksi bisu dari jiwa, perjuangan dan jejak-jejak sejarah. Dalam setiap suratan karya ini, tersimpan kisah bangsa yang hidup dalam ingatan para kalangwan.”
Saya ingin mengangkat sisi intelektual mereka, peran mereka untuk bangsa ini. Yang mereka para tokoh ini, sebagain bahkan sangat diperhitungkan oleh negara lain. Sementara di negaranya sendiri (Indonesia) peran mereka seolah sudah kabur bahkan tenggelam. Jadi karya yang saya tampilkan dalam pameran ini untuk menghidupkan kembali peran kesejarahan mereka.
Acara pembukaan pameran National Portrait Gallery Seabad para kalangwan kesaksian Paul Hendro berlangsung cukup meriah, ditambah jelang pembukaan ada panampilan musik bergenre synthwave electronic, yang menampilan lagu berjudul "planeta plastica", "multiversum saraswati", "nada dan doa" juga re-aransemen dari ismail marzuki "chandra buana" oleh musisi Arif Bachoxs Wicaksono. ***