TINEMU.COM -- Jika mendengar kata "Bajo" maka kita akan berpikir tentang suku laut di Indonesia yang terkenal karena bisa menyelam lebih lama dibandingkan orang-orang normal. Namun, tentu masih jarang yang mendengar tentang "Torosiaje" yang merupakan sebuah desa yang menjadi tempat persinggahan orang Bajo di Teluk Tomini, Provinsi Gorontalo, di Sulawesi.
Meski berada di atas laut, di atas air laut Teluk Tomini, Desa Torosiaje memiliki fasilitas umum yang layak. Di desa ini terdapat sekolah, masjid, lapangan bulu tangkis, warung-warung yang menjual kebutuhan sehari-hari, dan pastinya tersedia aliran listrik dari PLN dan genset jika listrik padam. Di sini pun terdapat fasilitas penginapan, satu milik pemerintah dan satunya milik warga setempat. Jangan khawatir tidak mendapat tempat menginap jika berkunjung ke sini, menginap di rumah penduduk pun bisa. Biayanya pun murah, berkisar antara 100 sampai 150 ribu semalam.
Untuk sampai ke Desa Torosiaje, Anda harus pergi ke Gorontalo. Dari sini, masih butuh waktu sekitar tujuh jam untuk sampai ke Kecamatan Popayato. Jaraknya kurang lebih 240 kilometer melalui perjalanan darat. Setelah di Popayato, perjalanan harus ditempuh dengan naik perahu dan sekitar 10 menit dari darat, Anda akan segera sampai di Desa Torosiaje setelah melihat tulisan “Welcome to Bajo” dan mulai tampak deretan rumah panggung di atas laut.
Baca Juga: Belum Dapat WA Isoman? Hubungi Whatsapp Kemenkes atau Email Pedulilindungi.id
Sebenarnya, masyarakat yang tinggal di Desa Torosiaje ini tidak hanya berasal dari satu etnis saja. Meski didominasi Suku Bajo, ada juga orang-orang dari Gorontalo, Bugis, Mandar, Buton, Minahasa, Jawa, dan Madura. Mereka hidup dengan damai di desa tersebut.
Menurut cerita, suku Bajo ini berasal dari orang-orang Kerajaan Malaka. Kisah tentang asal mula Suku Bajo berawal dari hilangnya seorang puteri Kerajaan Malaka dalam perjalanan berperahu hingga ke Sulawesi. Raja kemudian memerintahkan semua rakyatnya untuk pergi mencari puterinya itu. Tak kunjung menemukan puteri raja itu, mereka bertahun-tahun mengembara di lautan hingga punya keturunan.
Sedangkan cerita mengapa kampung atau desa ini disebut Torosiaje, berawal dari seorang yang disebut sebagai Pak Haji, yang tinggal di pulau yang menjadi cikal bakal desa ini. Namanya tidak diketahui pasti tapi orang-orang Bajo yang suka menjual ikan kepadanya menyebutnya Siaje. Sedangkan Toro dalam bahasa bajo berarti Tanjung, sehingga Torosiaje bermakna tanjung tempat pak haji tinggal. Jika dilihat dari atas, perkampungan ini membentuk pola huruf U.
Selama berlibur di Desa Torosiaje, ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Misalnya, memancing di dermaga, berkeliling Desa Torosiaje dengan menggunakan sampan, menjelajah Teluk Tomini, berenang, atau bersantai menikmati pemandangan lautan yang bersih. Bila berkesempatan jalan-jalan ke sana, Anda dapat melihat rumah-rumah di desa tersebut pondasinya terbuat dari batang pohon dan masing-masing rumah terhubung dengan koridor dari kayu. Umumnya rumah-rumah di sana memiliki ketinggian tiga hingga lima meter di atas permukaan laut.
Meski sudah dihimbau untuk tinggal di daratan, masyarakat di Desa Torosiaje, yang terdiri dari dua dusun yaitu Dusun Mutira dan Dusun Bahari Jaya, menolak. Mereka sudah merasa laut jadi bagian hidupnya. Lahir di atas laut, dimandikan pertama kali dengan air laut, dan makan pun dicukupkan dari hasil laut. Buat apa tinggal di darat?**
Artikel Terkait
Mengenal Kebun Raya Cibinong BRIN, Platform Riset dan Konservasi Tumbuhan Berkonsep Ekoregion
Rumah Budaya Indonesia Ajak Warga Jepang Kunjungi Bandung Secara Virtual
NTB Jadi Model Pengembangan Wisata Ramah Muslim