Buku 'The Jakarta Salon': Menyoroti Kiprah Kolektor dalam Sejarah Seni Rupa Indonesia

photo author
Donny Anggoro, Tinemu
- Minggu, 22 Juni 2025 | 05:24 WIB
THE JAKARTA SALON (istimewa)
THE JAKARTA SALON (istimewa)


TINEMU.COM- Sebuah perayaan penting dalam dunia seni rupa Indonesia hadir di ARTJOG: peluncuran buku The Jakarta Salon: The Patronages of the Papadimitrious Shaping Modern Art in Indonesia. Buku ini merupakan studi komprehensif pertama yang menyoroti kontribusi Alexander Papadimitriou dan keluarganya dalam perkembangan sejarah seni rupa modern Indonesia.

Ditulis oleh Rishika Assomull, Senior Director di Villepin Gallery, Hong Kong —sebelumnya menghabiskan lebih dari satu dekade di Sotheby’s sebagai Auctioneer, Deputy Director, dan Senior Specialist of Modern Art —buku ini menghadirkan eksplorasi mendalam mengenai praktik patronase seni, hubungan personal dengan para seniman, serta dinamika koleksi karya seni yang mereka bangun sejak akhir abad ke-20. Melalui pendekatan naratif dan dokumentasi visual, The Jakarta Salon tidak hanya mendokumentasikan koleksi seni keluarga Papadimitriou yang visioner dan signifikan, tetapi juga menelusuri peran mereka dalam membangun standar cita rasa dan praktik patronase seni di tengah periode formasi pasar seni modern Indonesia.

 

(atas-bawah) Perwakilan Keluarga Affandi-Suwarno Wisetrotomo-Ani Faiqoh Timbul Rahardjo
(atas-bawah) Perwakilan Keluarga Affandi-Suwarno Wisetrotomo-Ani Faiqoh Timbul Rahardjo (foto Phospheneart Book)

Melalui kisah-kisah personal yang mencerminkan kedekatan Alex Papadimitriou dengan sejumlah perupa, termasuk diantaranya Affandi, Srihadi Soedarsono, Ahmad Sadali, Hendra Gunawan, S. Sudjojono, dan Bagong Kussudiardjo, buku ini menawarkan narasi mendalam tentang hubungan antara seni, sejarah, dan kehidupan. Buku ini sekaligus mengisi kekosongan dalam wacana sejarah seni yang kerap luput mengangkat peran kolektor secara eksplisit.

Baca Juga: Meiska Rilis Lagu Riang Untuk yang Lagi Bucin,'Datang Tepat Waktu'

Peluncuran buku ini diselenggarakan sebagai bagian dari program publik ARTJOG 2025—bukan hanya sebagai perayaan atas terbitnya sebuah karya penting, melainkan juga sebagai momen untuk membuka percakapan publik tentang peran kolektor dalam sejarah dan ekosistem seni rupa Indonesia. Acara ini menjadi titik temu antara narasi personal dan refleksi kolektif—mengundang kita untuk melihat patronase bukan semata sebagai aktivitas ekonomi atau simbol status, melainkan sebagai relasi yang intim, berkelanjutan, dan sarat makna dengan dunia seni.

Kanjeng Pangeran Harya Wironegoro (kiri) menerima buku The Jakarta Salon
Kanjeng Pangeran Harya Wironegoro (kiri) menerima buku The Jakarta Salon (foto Phospheneart Book)

Peluncuran ini menjadi ajakan untuk memahami lebih dalam bagaimana sejarah seni Indonesia
dibentuk tak hanya oleh karya dan institusi, tetapi juga oleh visi, kepekaan, dan hubungan
antarmanusia yang kerap bersifat privat namun berdampak luas.**

Artikel Selanjutnya

Yang Menyentil dari Seni Rupa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Donny Anggoro

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X