Jakarta, 20 Juli 2025 — Catatan Rahman Seblat.
Di tengah hiruk pikuk Jakarta yang kian terdigitalisasi dan dirongrong artificial intelligence, sebuah oase kreativitas manual muncul. Selama dua hari, pada 19 dan 20 Juli lalu, Kedai Kopi Cukil di Jl. Lebak Bulus 1 Jakarta menjadi saksi bisu dua lokakarya seni rupa yang memikat: kolase dan cetak cukil grafis.
Acara bertajuk "Helo Juni, Pakabar Juli" ini seolah menghentikan waktu, mengajak pesertanya kembali meresapi sentuhan tangan manusia.
Di satu sudut, tumpukan majalah dan koran bekas berserakan, bukan sebagai sampah, melainkan medium baru. Peserta, yang sebagian besar adalah karyawan kantor, tampak asyik memotong, merobek, dan menempelkan fragmen-fragmen kertas menjadi komposisi visual yang imajinatif.
Lulu Ratna, salah satu pegiat Kumpul kolase, terlihat antusias membagikan bahan. Lebih dari sekadar mengasah kreativitas, ruang itu menjelma menjadi ajang bertukar cerita, tempat keluh kesah tentang kerasnya hari-hari di Jakarta ditumpahkan dalam balutan seni.
Di sisi lainnya, generasi muda—adik-adik Gen Z dan Gen Alpha—dipandu oleh para fasilitator Gen Milenial, asyik dengan alat-alat cukil. Di bawah bimbingan Ibob, mereka mengenal seluk-beluk seni grafis: dari pengenalan alat, bahan cetak lino, hingga jenis tinta.
Coretan sederhana menjadi garis, garis menjadi bentuk, lalu dicetak di atas lembaran kertas, menciptakan jejak personal yang artistik. Antusiasme Gen Alpha, bahkan di hari kedua yang diikuti oleh dua puluhan peserta, menunjukkan daya tarik kerja manual yang tak lekang oleh digital. Hasilnya pun beragam, dari karakter kartun lucu hingga pesan-pesan lingkungan yang mendalam.
Lokakarya yang berlangsung dari pukul 13.30 hingga 16.30 WIB ini digagas oleh tiga kolektif: Senin Grafis, Kumpul Kolase, dan Ibob Susu dan Kawan-kawan yang fokus pada cetak grafis di atas kain.
Arif Hidayat, anggota kolektif Senin Grafis sekaligus koordinator acara, menjadi sosok paling sibuk di balik kelancaran "Helo Juni, Pakabar Juli." Menurut Arif, atau yang akrab disapa "Batawi," kehadiran peserta yang mencapai 30 orang di hari pertama adalah bukti kerinduan akan kreasi manual.
Hasil karya lokakarya ini tak hanya disimpan, namun langsung dipamerkan di selasar Kedai Kopi Cukil, berdampingan dengan karya-karya lain yang lebih dulu menghiasi dinding. Sebuah etalase di ruang depan juga menyajikan produk merchandise menarik dari Artcukil_tshirt, mulai dari kaus, pouch, tote bag, hingga produk cetak manual lainnya.
Di balik riuhnya kegiatan ini, tersirat sebuah siasat cerdas dari para seniman. Di tengah kondisi ekonomi yang tak menentu, di mana penjualan karya seni murni seringkali terasa berat, strategi menciptakan produk turunan menjadi jembatan.
Dengan demikian, seni menjadi lebih terjangkau oleh khalayak luas, memungkinkan para seniman untuk terus bergeliat, berekspresi, dan menjamin keberlangsungan hidup serta penghidupan mereka. Ini adalah bukti nyata bahwa seni, dalam segala aspek dan bentuknya, selalu menemukan cara untuk tetap bernapas dan terhubung dengan denyut nadi masyarakat.***