TINEMU.COM - Jakarta – Suasana baru, harapan baru. Itulah semangat yang diusung Art Moments Jakarta 2025 yang kini menempati rumah barunya di lantai 11 Agora Exhibition Mall, kawasan Sudirman, Jakarta Pusat. Setelah tujuh tahun berpameran di Gandaria City, langkah berani menuju tempat baru ini disambut antusias, termasuk oleh para pelaku seni, galeri, dan kolektor.
“Tahun ini tantangannya luar biasa, penuh ketidakpastian. Tapi kami melangkah selangkah demi selangkah. New home, new hope,” ujar Sendy Widjaja, Co-Founder sekaligus Fair Director Art Moments Jakarta, dalam pembukaan pameran pada Kamis, 7 Agustus 2025.
Agora Mall yang megah menjadi saksi pertumbuhan ajang seni rupa tahunan ini. Dari 40 galeri tahun lalu, kini membengkak menjadi 60 galeri dari dalam dan luar negeri, dengan lebih dari 600 seniman terlibat. Tema tahun ini, “Restoration”, bukan hanya simbolik, tapi jadi panggilan untuk membangun kembali hubungan—dengan alam, sesama, dan diri sendiri.
Mewujudkan “Restorasi” Lewat Imajinasi dan Empati
“Restorasi itu bukan semata memulihkan, tapi membayangkan ulang,” ujar Sudjud Dartanto, Direktur Artistik Art Moments Jakarta. Di bawah kurasinya, pameran ini menjelma jadi medan dialog terbuka. Mulai dari ruang inklusif bertema gender dan erotisme, hingga penghormatan pada para maestro seni modern Indonesia seperti Sudjojono, Kerton, Fadjar Sidik, dan Ahmad Sadali.
Pameran dibuka dengan performans artistik dari Arahmaiani, pionir seni pertunjukan kontemporer Asia Tenggara, yang membawa bendera-bendera simbolik seputar gender, kekuasaan, dan keadilan sosial.
Meiro Gallery : 9 Perupa, 9 Wajah Imajinasi Global
Salah satu galeri yang menarik perhatian publik adalah Meiro Gallery. Tahun ini, Meiro Gallery menampilkan sembilan perupa lintas negara dengan pendekatan artistik yang segar, personal, dan kritis.
Kenny Yustana, founder Meiro Gallery, di depan booth B23 di ajang ArtMoments 2025 menyatakan bahwa seni adalah jembatan empati—tempat di mana luka dan harapan bisa bersuara bersama."
Berikut 9 perupa yang karyanya menghiasi booth Meiro Gallery;
Dari Yogyakarta, AC Andre Tanama menghadirkan Gwen Silent, sosok bisu yang menjadi cermin isu sosial dan eksistensial yang telah ia eksplorasi selama hampir dua dekade.
Sementara dari Bandung, Arkiv Vilmansa menantang ikon budaya pop lewat MICKIV—versi dekonstruktif dari Mickey Mouse yang menggoda nostalgia, namun sekaligus menyuarakan kritik atas mitos konsumerisme dan waktu.
Javier Gonzalez Burgos, perupa asal Spanyol yang dikenal lewat kolaborasi dengan Disney dan Nickelodeon, menampilkan dua karya menggetarkan: Makhluk Pingpong, refleksi sunyi tentang kesendirian; dan Olive Eyes, perpaduan surealisme dan kerentanan yang mengajak kita kembali pada naluri dan alam.
Dari Thailand, hadir karakter menyentuh bernama Juzepe, ciptaan Kung Sholl, yang mengajak kita mengenang masa kecil yang rapuh tapi jujur. Sementara Pamkids menghadirkan Mawar Hasrat, kisah cinta yang manis sekaligus berbahaya, melalui karakter "Bubby" yang lucu namun penuh makna.
Nicolas Lesaffre dari Prancis membawa BB Hug yang menggemaskan—makhluk peluk dengan filosofi mendalam tentang pentingnya memeluk peluang hidup. Karya ini menyatu indah dengan sentuhan gaya khas Lesaffre yang telah dipercaya merek-merek global seperti Louis Vuitton, Gucci, dan McDonald’s.