TINEMU.COM - Jakarta, September 2025 - Pasti ada yang masih ingat lagu anak-anak yang riang dinyanyikan: “Kepala, pundak, lutut, kaki…?” Lagu sederhana itu dulu mengajarkan kita mengenal tubuh dan kebebasan gerak.
Namun, di dunia orang dewasa, tubuh seringkali bukan lagi ruang otonomi, melainkan medan tarik-menarik antara keinginan personal dan norma sosial. Dari cara berpakaian hingga pilihan karier, tubuh kita kerap menjadi “wilayah publik” yang ditentukan orang lain.
Diberitahukan mengingat situasi dan kondisi Pameran Kepala, Pundak, Lutut, Kaki di Art Agenda, Wisma Geha Lantai 4, Jakarta diundur jadi tgl 6 September – 25 September 2025. Sedang Tur Kuratorial akan dilaksanakan tgl 13 September 2025.
Pameran Kepala, Pundak, Lutut, Kaki di Art Agenda adalah sebuang gelaran yang mengajak pengunjung merenungkan kembali hubungan tubuh, identitas, dan kendali sosial.
Dikuratori oleh Stella Wenny, pameran ini menampilkan sembilan perupa lintas medium: Dimas Hussein, Eric Pradana, Eunice Nuh Tantero, Galih Johar, Gigih Prayogo, Rega Ayundya Putri, Theresia A. Sitompul, Wednesday Lim, dan Yawara Oky Rahmawati.
Mulai dari kanvas minyak yang penuh intensitas, konstruksi mainan yang didekonstruksi, hingga sulaman kain bekas yang menjelma narasi intim, karya-karya mereka menantang kita untuk bertanya: siapa sebenarnya yang mengendalikan tubuh kita?
Apakah benar tubuh ini milik kita, atau sekadar “dipinjamkan” untuk dipoles, dinilai, bahkan dikontrol oleh masyarakat?
Di antara karya yang akan hadir:
- Dimas Hussein dengan Life Is Strong, But We Both Are Stronger (2025), sapuan minyak yang meneguhkan daya tahan tubuh.
- Eric Pradana lewat Ego (2025), potret rapuh-kuat manusia dalam kanvas mungil.
- Eunice Nuh Tantero dengan Tarik Menarik 2 (2025), menggarisbawahi ketegangan antar-kehendak.
- Galih Johar dalam Who Controls Who, Part I (2024), membongkar mainan RC car sebagai alegori kuasa.
- Gigih Prayogo dengan Cornered by the Weight (2025), menggambarkan tekanan yang menjerat.
- Rega Ayundya Putri dengan The Shape of Letting Go (2025), bentuk visual melepaskan beban.
- Theresia A. Sitompul dengan Pinggul 01 (2025), cetak saring yang menggoda batas sensualitas tubuh.
- Wednesday Lim lewat The Cake Seller (2024), menghadirkan realisme sosial yang penuh gestur.
- Yawara Oky Rahmawati dengan Berderai Pelan Sepanjang Malam (2024), tenunan fragmen tekstil yang lirih sekaligus kuat.
Kurator Stella Wenny menekankan bahwa tubuh bukan sekadar representasi biologis, tetapi medan pertempuran wacana: stigma, ekspektasi, hingga stereotip.
“Dengan menyoroti sistem kendali yang mengungkung tubuh,” ujarnya, “pameran ini mendorong kita untuk membebaskan diri; percaya bahwa kita sungguh bebas melakukan apa pun yang kita inginkan.”
Acara Pembukaan & Tur Kuratorial
Pembukaan tanggal: 6 September, pukul 15.30 WIB
Tur Kuratorial: 13 September, pukul 15.30 WIB
Lokasi: Art Agenda, Wisma Geha Lantai 4, Jakarta
Pameran berlangsung: 6 September– 25 September 2025
Jam buka: Selasa – Sabtu, 12.00 – 17.00 WIB
(Tutup Minggu & Senin)
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
Inas – +62 815 1906 9694 (WA)***