TINEMU.COM - Jakarta, 3 Oktober 2025 – Ajang seni rupa terbesar di Asia Tenggara, Art Jakarta 2025, resmi dibuka pada Jumat (3/10) di JIEXPO Kemayoran Hall B3. Selama tiga hari, 3–5 Oktober 2025, acara ini menghadirkan 75 galeri dari 16 negara.
Salah satu sorotan utama tahun ini adalah keikutsertaan Neo Gallery, yang mempersembahkan karya-karya dari sejumlah maestro seni lintas generasi, mulai dari Abdul Aziz, Affandi, Ahmad Sadali, Lee Man Fong, Pardoli Fadli, Paul Husner, hingga Syakieb Sungkar.
Dipimpin oleh Direktur Stefanus Randy Oenardi Raharjo, Neo Gallery menampilkan narasi yang kuat: perjalanan panjang seni rupa Indonesia yang berpadu dengan dialog global. Karya-karya klasik dan kontemporer yang dipamerkan menjadi jembatan antara sejarah, spiritualitas, ekspresi pribadi, hingga refleksi sosial.
“Keikutsertaan kami di Art Jakarta adalah upaya untuk menghadirkan panorama seni rupa Indonesia dalam lintasan yang lebih luas. Kami ingin membuka ruang dialog antara generasi seniman lama dan baru sekaligus memperlihatkan bahwa seni rupa Indonesia punya peran penting di panggung dunia,” ujar Stefanus Randy Oenardi Raharjo.
Gelar Karya Neo Gallery di Art Jakarta di antaranya;
- Abdul Aziz dengan Couple (1980) yang menangkap keindahan sosok perempuan dalam lanskap Bali.
- Affandi dengan karya ekspresionis ikonik Boats and The Sun (1985) yang ditawarkan seharga IDR 950 juta.
- Ahmad Sadali dengan dua karya pentingnya, Brick Red Blocks and Remnants of Gold (1979) dan Brown Field (1985), yang merefleksikan spiritualitas dalam abstraksi.
- Lee Man Fong dengan Gold Fish, memadukan harmoni gaya tinta Tiongkok dan modernisme Barat.
- Pardoli Fadli dengan karya kontemporer bertema perempuan dan generasi muda, termasuk Gen Z (2025).
- Paul Husner dengan lukisan ritual Bali seperti Temple Festival in Sidemen (2007).
- Syakieb Sungkar dengan patung kontemporer Queen Cat (2025) yang memadukan seni, filsafat, dan refleksi budaya.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya Art Jakarta 2025.
“Art Jakarta telah menjadi barometer kesenian kontemporer, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di tingkat internasional. Ajang ini bukan hanya ruang presentasi karya seni, tetapi juga motor penggerak ekonomi kreatif dan ruang diplomasi budaya yang penting,” ungkap Riefky.
Senada, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan bahwa seni memiliki potensi strategis untuk mendukung pembangunan bangsa.
“The Cultural and Creative Industry adalah bentuk ekonomi masa depan yang lebih sustainable. Indonesia punya modal budaya yang sangat besar untuk berkembang, dan Art Jakarta adalah salah satu wujud ekspresi kekuatan itu,” kata Fadli.
Fair Director Tom Tandio menambahkan bahwa edisi ke-15 Art Jakarta ini ingin menjadi ruang yang lebih dinamis bagi seniman.
“Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, seni adalah pengingat untuk kembali pada nilai kemanusiaan dan harapan kolektif membangun peradaban yang lebih baik,” ujarnya dalam pembukaan.
Partisipasi Neo Gallery dalam Art Jakarta 2025 tidak hanya memperkuat representasi seni rupa Indonesia, tetapi juga menjadi bukti bahwa karya seniman Indonesia mampu berdialog dengan skena internasional. Dengan kombinasi maestro klasik dan seniman kontemporer, Neo Gallery tampil sebagai salah satu magnet utama bagi kolektor, kurator, dan pecinta seni di ajang bergengsi ini.***