TINEMU.COM - Zaman memberi tanda, bahwa status quo perempuan sebagai makhluk yang ruang geraknya terbatas masih ada dan bisa dikatakan tetap bertahan. Representasi dalam berbagai bidang kehidupan, baik ekonomi, politik dan sosial, membedakan peran mereka dalam aspek kehidupan ini.
Hal ini menjadi kokoh ketika dibalut dengan nilai-nilai adat dan budaya. Peran inilah yang membuat pergerakan perempuan sempit dalam memperlihatkan kelebihan keterampilan, intelektualitas dan partisipasinya dalam masyarakat.
Masalah-masalah itulah yang menyelimuti gerak dalam kehidupan perempuan hari ini. Kondisi sosial dan budaya tidak memungkinkan bergerak bebas sesuai kemauan dan representasi sosial seperti laki-laki, bebas dan melampaui nilai-nilai budayanya.
Baca Juga: Indonesia vs Argentina, Sebuah Hiburan Berbalut Sepakbola
Pameran komunitas seniman perempuan oleh Komunitas seniman Empu Gampingan, Yogyakarta yang dilaksanakan 16-30 Juni 2023, di Ruang Garasi, Jl Gandaria IV No 2, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, mencoba menawarkan bagaimana pergerakan perempuan dalam komunitas menjadi latar sebagai cara memperlihatkan ketrampilan, intelektualitas dan partisipasinya dalam masyarakat.
Hal inilah yang dapat diperlihatkan sebagai gagasan komunitas Empu Gampingan ini dalam dilema sosial tanpa ujung. Pergerakan seni melalui pameran yang digagas bersama memperlihatkan bahwa Empu sebagai komunitas perempuan mampu bergerak dalam ruang-ruang sosial yang mempunyai puncak artistik.
Komitmen Empu sebagai komunitas perempuan yang telah berdiri sekina tahun dengan kebersamaan yang solid, memberi tanda bahwa komunitas seniman perempuan mampu bergerak dan membuat representasi seni dengan karya-karyanya.
“Gagasan Republika Domestika merupakan gagasan kolektif, bagaimana seniman perempuan memperlihatkan alam hidupnya, memberi tanda intelektualitasnya melalui karya seni”,tegas Irine Agrivine, salah satu anggota, sekaligus ketua komunitas, menuliskan pengantar dalam pemeran ini.
Baca Juga: Mimpi SBY dan Mimpi Obasanjo akan Nigeria
Karya-karya dalam Gagasan Republika Domestika mempunyai perspektif kehidupan perempuan yang sesungguhnya. hal ini sekaligus memperlihatkan bagaimana seni partisipasi perempuan dapat melampaui batasannya.
Melalui pameran ini komunitas seniman perempuan, Empu Gampingan, secara keseluruhan anggotanya berasal dari alumni Institut Seni Indonesia, Yogyakarta berjumlah 27 orang seniman perempuan, membuat komunikasi antara ruang domestik dan ruang publik dapat dilebur melalui karya seni yang ditampilkan dalam ruang pamer tersebut.
Sehingga pendekatan domestik, ruang perempuan, dapat dilihat dalam satu rangkaian definitif dan mempunyai kedaulatan terhadap penciptaan yang dilakukan seniman perempuan. Penulis Frigidanto Agung **