foto arsip pribadi
TINEMU.COM- Racun tembakau dengan olahan gaya modern membuat rokok sebagai biang racun perusak kesehatan tubuh. Sudah dapat diketahui pelbagai penyakit berbahaya muncul gara-gara hobi tak sehat ini mulai dari paru-paru sampai kanker. Namun, buku ini sungguh unik dan berani judulnya, Filosofi Rokok: Sehat, Tanpa Berhenti Merokok. Astaga! Jadi, merokok itu baik?
Dari judulnya pembaca mungkin bakal terperangah dan tak percaya. Namun, buku ini sejatinya bukan bermaksud membela kaum perokok. Buku setebal 200 halaman ini sebenarnya mengajak para perokok yang sudah sulit menghilangkan kebiasaannya agar ”merokok pada tempatnya” alias tidak bersentuhan dengan orang-orang yang bukan perokok. Jadi, bukan berarti mengajarkan kepada orang yang bukan perokok supaya ajdi perokok. Singkatnya, Anda kaum perokok hendaknya jangan merokok di dekat-dekat bukan perokok.
Selain itu dalam buku ini tercetus beberapa alasan mengapa ”merokok ”tidak seburuk yang dikira kebanyakan orang”.Jadi kesimpulannya adalah ”merokok itu baik”. Lantas apa alasannya jika merokok itu baik?
Baca Juga: Yang Menyentil dari Seni Rupa
Pertama-tama merokok disebutkan dalam buku ini bermanfaat secara psikologis. Alasannya banyak temuan fakta perihal merokok dapat meningkatkan konsentrasi, mood, kemampuan belajar, mengurangi stres dan lelah serta kemampuan memecahkan masalah tatkala menghisap sebatang rokok (hlm.88).
Kemudian manfaat secara sosiologis dalam buku ini, kendati penulisnya mengaku belum punya sandaran ilmiah, ia punya argumen bahwa rokok telah menjadi semacam perantara yang dianggap telah menjadi kebiasaan dalam masyarakat, untuk menghubungkan atau paling tidak dapat memecahkan kebekuan dalam sebuah komunikasi formal atau informal antara dua orang atau lebih. Rokok telah bisa dicatut sebagai pencair suasana dalam kelas obrolan ringan hingga negosiasi penting. Dengan kata lain, ”sebatang rokok adalah negosiator terbaik kedua di dunia.” Wow!
Baca Juga: Presiden Jokowi Resmikan WHOOSH, Kereta Cepat Pertama di Asia Tenggara
Fakta Tersembunyi
Selain itu, buku ini menyebutkan fakta tersembunyi perihal manfaat rokok yang tak diketahui orang. Manfaat rokok lainnya ternyata mampu mengurangi risiko penyakit parkinson. Parkinson adalah penyakit menghilangnay sel-sel otak yang memunculkan zat kimia dopamine sehingga berdampak tubuh menjadi gemetar, dingin, gerak lambat dan bermasalah dnegan keseimbangan. Ini didukung dari penelitian sebuah laboratorium di Amerika yang telah mempelajari 210 pria dan wanita pengidap parkinson. Hasilnya perokok mampu memiliki risiko lebih rendah sampai 50 persen, bahkan perokok berat 70 persen lebih rendah terkena penyakit itu (hlm.87).
Tapi, buku ini memang tak sembarangan. Sang penulis, Suryo Sukendro juga dengan fasih menyebutkan sejarah rokok pertama kali masuk ke Indonesia (hlm.43), juga cerita tentang sepak terjang para pengusaha rokok legendaris yang sukses pada masanya. Sejarah singkat tentang rokok dan tembakau dunia juga disinggung di halaman 31. Tentu saja catatan-catatan tersebut menambah bobot buku yang ditulis dengan pendekatan populer dan mampu mendobrak stereotip pemikiran awam.
Yang tak kalah menarik anekdot-anekdot seputar merokok juga dituliskan sehingga ketika membaca buku ini kita bisa mengulum senyum. Misalnya anekdot tentang kaum perokok yang tentu akan sulit dimasuki rumahnya karena setiap malam ia batuk-batuk sehingga pencuri tak berani masuk! Logikanya begini, bukankah pencuri cenderung lebih suka memasuki rumah yang kosong atau sepi?
Selain itu, industri rokok disebutkan dapat membantu keberlangsungan ekonomi, walau berbagai protes keras dilayangkan kepada para pengusaha rokok. Penulis mendukungnya dari data-data berupa angka yang valid (hlm.91) sehingga setelah membacanya kita mengambil kesimpulan bahwa industri rokok memang tak bisa dikesampingkan lagi dari kehidupan karena telah memberi keberlangsungan hidup bagi para petani tembakau.