Buku Tua dan Tanda Tangan

photo author
Bandung Mawardi, Tinemu
- Minggu, 16 Juli 2023 | 15:01 WIB
Drs. Polycarpus Swantoro dan Buku Dari Buku ke Buku Karyanya (Istimewa)
Drs. Polycarpus Swantoro dan Buku Dari Buku ke Buku Karyanya (Istimewa)

TINEMU.COM - Buku itu hitam. Kita melihat bukan hitam mutlak. Di sampul, kita masih melihat warna lain. Warna itu kesilaman. Warna dari buku berusia tua. Kita pun melihat lelaki tua. Di tangan, ada waktu. Di tangan, ada buku. Lelaki berambut putih tampak terang ketimbang hitam. Ia berada dalam “himpitan” atau “terkepung” buku-buku tua.

Buku penuh pikat sejak sampul depan. Kita di hadapan buku berbobot hampir 1 kilogram tapi berbobot sejarah dan biografi melampaui 100 kilogram. Buku bersuana tua, bisa terbaca orang belum ingin tua atau membantah menua.

Buku itu waktu. Buku itu usia. Mata melihat samar: gambar kapal dan bendera. Kapal di lautan, bergerak jauh. Kapal itu pergi menuju alamat-alamat, tak semua sampai. Kapal tetap bersama ombak dan angin. Pergi dan pulang di batas kepastian dan keraguan. Kapal berisi manusia dan benda-benda. Buku-buku mengangkut bahasa, cerita, impian, dan doa.

Baca Juga: 500 Pelajar Wilayah Papua Penerima Beasiswa ADEM 2023 Ikuti Pembekalan Wawasan Kebangsaan

Kapal dan buku. Di kapal, buku-buku ikut berkelana. Buku-buku membawa pengetahuan, perintah, atau ajaran. Buku-buku bakal mengubah tempat-tempat dikunjungi dan bertaut tanah asal. Buku di atas lautan. Buku dalam ombak-ombak memicu berkah atau petaka.

Di sampul buku, kita termenung bukan untuk menua tapi teringat tua-tua dari kesilaman. Sampul sudah bercerita, tebar imajinasi daratan dan lautan selalu menghasilkan lakon-lakon mengubah Nusantara. Perubahan di pergolakan dunia. Gambar kapal berbendera asing di punggung buku lama berjudul Geillustreerde Encyclopedie van Nederlannsch-Indie (1934) itu mengingatkan pelbagai benda dan gagasan berdatangan ke Nusantara dengan kapal memuat
buku. Kapal pula membawa segala cerita Nusantara ke Eropa dan pelbagai negara, mewujud buku-buku.

P Swantoro (2002) mengingat dan menjelaskan buku digunakan menghias sampul Dari Buku ke Buku: Sambung Menyambung Menjadi Satu, buku berpengaruh sejak ia masih bocah: “Namanya ensiklopedi, tetapi berbeda dari ensiklopedi umumnya, buku itu hanya satu jilid kendati cukup tebal, 1.584 halaman.... Anehnya lagi, tiap halaman dibagi dua kolom, dan tiap kolom diberi nomor, sehingga satu halaman mengandung dua nomor. Jadi 1.584 halaman menurut hitungan nomor, sebenarnya hanya 792 halaman. Ukurannya pun jauh lebih kecil daripada ensiklopedi biasa, cuma 13 x 19,5 cm.”

Baca Juga: Paket-Paket Wisata Digelar Sambut FIFA World Cup U 17 2023

Ia tak sedang mengulas isi buku. Pengamatan dan pencatatan tentang ukuran dan halaman. Buku terbit saat pengamat dan pencatat berusia 2 tahun. Pada pertambahan usia, ia bisa melihat dan membuka isi-isi buku. ia terpesona gambar-gambar, belum kata-kata.

Buku itu memandu untuk bergerak bersama buku-buku, sejak bocah sampai tua. Kenangan terindah dan menggugah berasal dari bapak. P Swantoro menjadikan itu penentu: “Alangkah senangnya orang yang menguasai banyak bahasa. Pergaulannya akan luas dan ia akan dapat membaca buku-buku dari banyak negara.”

Ucapan itu terbenarkan saat P Swantoro bertumbuh dewasa dengan buku-buku beragam bahasa. Ia kadang memilih buku-buku tua, berharap sejarah atau masa lalu bisa terbawa ke masa berbeda.

Kita tak menuduh P Swantoro setiap hari memandangi dan mengamati buku. Ia bukan pembaca atau pengulas dengan jadwal rutin setiap hari, sejak pagi sampai malam. Ia bekerja di perusahaan pers. Ia menunaikan kerja-kerja menghasilkan tulisan-tulisan disampaikan kepada pembaca.

Baca Juga: ICM UNESCO Promosikan Pencak Silat Anti Kekerasan

Kerja dengan kelelahan dan ketegangan. Ia terhindar dari kutukan kerja. Buku-buku (tua) memanggil atau ia mengikuti kemauan menuju buku-buku dirindukan dari masa lalu.

Waktu tak dibiarkan berlalu sia-sia. Ia masih mungkin bercengkerama bersama buku-buku tua. Ia mengisahkan diri, mengikutkan buku-buku. Sekian buku diperoleh di pelbagai tempat melalui pembelian atau “pemberian”.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X