Sebelah tangannya mestinya mencengkeram kencang urat nadi tangan To Liong, tapi kini ia harus menghadapi busu Mongol itu, terpaksa ia lepaskan To Liong.
Penjaga itu adalah busu bawahan Dulai yang mahir ilmu gulat ala Mongol, dalam hal pertarungan dari jarak dekat justru adalah kemahirannya.
Ketika bacokan golok Khing-koh mengenai tempat kosong, segera busu Mongol itu menubruk maju dengan sebelah tangan ia tahan lengan Si Nona yang bersenjata itu, sedang sebelah kaki lantas menjegal, maksudnya hendak merobohkan Khing-koh.
Tapi ilmu golok Khing-koh juga sangat ganas, cepat ia berputar, goloknya ikut menyambar ke atas dan kebawah, ke kanan dan ke kiri, dengan demikian, biarpun lawan menyerang dari arah manapun pasti akan terkena goloknya.
Cara bergulat orang Mongol meski berbeda dari pada “Kim-na-jiu-hoat”, tapi dasarnya sama, maka dalam hati Khing-koh merasa senang karena pihak lawan yang menyodorkan kaki dan tangannya untuk ditebas.
Tak terduga baru saja goloknya bekerja, tiba-tiba dari belakang angin keras menyambar kepalanya, kiranya To Liong telah menghantamnya dari belakang.
Ketika Khing-koh sedikit menunduk ke depan, punggungnya yang kesakitan kena pukulan, hanya saja tidak terluka.
Rupanya saat itu baru saja To Liong dapat melancarkan hiat-to yang tertotok, tenaganya baru pulih satu-dua bagian saja.
Dengan gemas Khing-koh terus menghantam ke belakang hingga To Liong kontan terjungkal, sedangkan golok di tangan kanan masih terus bekerja seperti tadi.
Namun lantaran perhatiannya terpencar, dengan sendirinya putaran goloknya menjadi kurang sempurna.
Kemahiran jago gulat adalah pandai melihat titik kelemahan musuh, begitu melihat kesempatan baik segera diterjangnya. Ketika golok Khing-koh menyambar lewat samping kepala busu Mongol itu dan tidak mengenai sasaran, seketika busu itu maju, sekali pegang dan sekali putar, kontan Khing-koh dibanting ke balik pundaknya.
“Haha, Nona cilik, aku menjadi tidak tega membinasakan kau!” seru busu itu dengan bergelak tertawa. Dan baru saja ia hedak menubruk maju untuk menangkap Khing-koh, se-konyong-konyong sepotong batu kecil datang menyambar dan tepat mengenai hiat-to di bagian dengkulnya, seketika busu itu roboh terguling.
Dengan gerakan “Li-hi-tah-ting” (ikan lele melejit), cepat Khing-koh melompat bangun, ketika dilihatnya busu Mongol itu sudah menggeletak, maka tahulah dia ada orang telah membantunya secara diam-diam.
Tanpa pikir lagi goloknya lantas menabas untuk habiskan nyawa busu Mongol itu. “Lekas lari, Khing-koh!” segera To Liong berseru.
“Demi kebaikanmu makanya tadi aku mencegah kau membunuh busu itu. Sekarang sudah kau lakukan, bila tidak lekas lari tentu kau sendiri akan celaka. Di sekitar sini masih banyak musuh, bila diketahui tentu sukar bagimu untuk lolos. Tentang menolong Li Su-lam boleh serahkan padaku saja, kau sendiri lekas lari!”