Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (311)

photo author
Dedy Tri Riyadi, Tinemu
- Rabu, 17 Januari 2024 | 09:00 WIB
cerbung Pahlawan Padang Gurun (Playground AI)
cerbung Pahlawan Padang Gurun (Playground AI)

TINEMU.COM - Selagi Li Su-lam duduk tenang dan mengerahkan tenaga ditemoat tahanannya, dalam kegelapan ia pun tidak tahu siang hari atau sudah malam.

Tiba-tiba didengarnya ada suara tindakan dua orang menuju ke arahnya. Sekonyong-konyong suara percakapan kedua orang itu pun dapat didengarnya.

Seketika Li Su-lam terperanjat. Sebab suara itu sudah dikenalnya dengan baik, jelas itulah suara To Liong.

Terdengar To Liong sedang berkata, “Penjaga ini tidak paham bahasa Han, akan kuminta kuncinya, lalu sengaja kusingkirkan dia ke tempat lain, cara ini baik tidak?”

“Hendaklah kau jangan main gila, apakah betul-betul Li-bengcu ditahan disini?” demikian terdengar suara perempuan muda menanggapi.

Li Su-lam menjadi heran, siapakah perempuan itu? Dari nada ucapannya agaknya dia sengaja datang buat menolong diriku? Mengapa To Liong mau menuruti perintahnya, sungguh aneh! Demikian pikir Su-lam.

Dari suara mereka itu Li Su-lam menaksir jarak mereka dari kamar tahanan itu masih dua-tiga puluh langkah lagi, agaknya suara perempuan itu diucapkan dengan setengah berbisik di tepi telinga To Liong.

Dalam pada itu mereka sudah sampai di depan kamar tahanan itu. Penjaga di situ adalah seorang busu Mongol yang sudah kenal To Liong, tapi belum kenal Lau Khing-koh.

Maka ia merasa sangsi melihat To Liong datang bersama seorang perempuan muda. Namun belum dia menegur, To Liong sudah lantas mendahului membuka suara dalam bahasa Mongol, “Berikan kunci palsu padaku, cepat kau pergi mengundang Liong-siang Hoat-ong! Tidak perlu tanya lagi, lekas berangkat! Aku berada dalam ancaman orang ini!”

Rupanya busu Mongol itu tidak dapat bicara bahasa Han, tapi sedikit-sedikit dapat mendengar artinya. Sebab itulah To Liong mendahului bicara bahasa Mongol dengan dia.

Saat itu tidak terpikir oleh To Liong bahwa meski Lau Khing-koh tidak paham bahasa Mongol, tapi Li Su-lam yang terkurung di dalam penjara itu fasih bahasa asing itu.

Kini Li Su-lam sudah yakin Lau Khing-koh datang untuk menolongnya, walaupun belum jelas siapa nona itu, namun tiada kesempatan berpikir lagi baginya, segera ia berteriak, “Lekas turun tangan, bunuh penjaga itu!”

Belum lenyap suaranya, ternyata busu Mongol itu sudah menerjang lebih dulu kerah Lau Khing-koh sambil memaki, “Budak busuk, berani benar kau!”

Dia menggunakan bahasa Han yang kaku, namun hal itu pun membuktikan dia bukannya sama sekali tidak paham bahas Han sebagai dikatakan To Liong tadi.

Dengan gesit Khing-koh mengegos ke samping, berbareng ia terus melolos goloknya, dengan jurus “Liong-hui-hong-bu” (naga terbang burung ho menari), kontan ia membacok lawannya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X