“Jangan percaya ocehannya, dia menipu kau!” demikian Li Su-lam juga berseru.
“Jangan percaya kata-kata berbisa orang lain, Khing-koh!” kata To Liong dengan suara rada gemetar. “Betapapun kita sudah pernah sumpah setia.”
Mendengar itu, Su-lam menjadi bingung. Ia heran ada hubungan apakah antara wanita ini dengan To Liong? Jangan-jangan seperti halnya Nyo Wan juga terpikat oleh kata-kata manisnya?
Dalam pada itu pikirannya Khing-koh menjadi kacau, bentaknya, “Tutup mulutmu! Saat ini aku belum ada tempo untuk membunuh kau!”
Seorang gadis betapapun tetap sukar melupakan kekasihnya yang pertama, sebab itulah biarpun dia amat benci kepada To Liong, namun tidak tega membunuhnya.
Dalam keadaan pikiran kacau tak teringat olehnya To Liong dapat bergerak bebas lagi, padahal hiat-to telah ditotoknya.
Khing-koh berhasil menemukan kunci dalam baju busu penjaga tadi, segera ia hendak membuka pintu kamar tahanan. Tetapi mendadak angin berkesiur dari belakang, seorang telah menubruknya dan kukunya yang tajam telah membikin lecet pundaknya.
Keruan Khing-koh terkejut, cepat ia mengegos untuk menghindarkan cengkeraman musuh. Waktu ia menoleh, dilihatnya penyerangnya ternyata bukan To Liong, tapi seorang wanita berambut terurai.
Kiranya wanita itu adalah istri penjaga tadi yang bertugas menjaga penjara wanita. Nyo Wan dan Han Pwe-eng dikurung dikamar tahanan sebelah menyebelah dengan Li Su-lam.
Sambil menghadapi wanita itu, sedapat mungkin Khing-koh menggunakan sebelah tanganya untuk membuka gembok kamar tahanan.
Syukurlah gembok itu lantas terbuka dan jatuh ke lantai di mana pintu kamar tahanan terbentang tertampaklah Li Su-lam melangkah keluar. **
(Bersambung)