TINEMU.COM-Kita sering membanggakan diri dengan selalu menggenggam ponsel, kehidupan senantiasa berada dekat kita. Padahal tanpa menyadari ponsel lah yang "menggenggam" kita. Kecanggihan model serta fitur yang ditawarkan ponsel memang memudahkan pekerjaan. Belum lama ini bahkan sempat terdengar seloroh “kantorku sekarang ada di ponsel!” karena nyaris kehidupan kita lebih banyak di sana.
Sekedar contoh pekerjaan sebagai jurnalis kini dipermudah dengan satu ponsel saja yang sudah bisa membantu kita mengerjakan sekaligus : menulis, merekam video, mengedit sekaligus mengunggahnya di platform digital. Memesan makanan dan belanja tinggal klik, barang diantar ke rumah. Nyaris separuh lebih data diri kita ada di sana. Tugas-tugas kita ada di sana.
Tak jarang penawaran, perjanjian bahkan pengambilan keputusan dalam bisnis pun kini bisa diselesaikan lewat perbincangan di WhatsApp, tatap muka lewat Zoom atau GoogleMeet. Ya, mata kita terus menerus menatapnya, sejak bangun tidur di pagi hari hingga malam saat tidur lagi. Dan kita semakin tak berdaya tanpanya.
Baca Juga: Ini Dia Peraih Penghargaan Telkomsel Awards 2024!
Buku karya jurnalis Desi Anwar ini Going Offline Menemukan Jati Diri di Dunia penuh Distraksi (terbit 2020), mengajak pembaca untuk menjadi “offline” alias kembali ke dunia nyata, meletakkan sejenak atau lebih lama dari dunia maya.
“Jangan sampai kita menjadi kehilangan makna kehidupan hanya karena mendapatkan distraksi di dunia maya,” begitu pesan penulis dalam bukunya yang keempat setelah Hidup Sederhana (2014), Lima Cerita (2019), dan Apa yang Kita Pikirkan ketika Kita Sendirian (2021)
“Teknologi adalah budak yang dapat diandalkan tapi dia majikan nan keji,” demikian Desi menulis dalam kata pengantarnya. Gawai cerdas itu menuntaskan berbagai tugas penting, memudahkan menyelesaikan tugas, lebih cepat dan efisien. “Tapi jika membiarkan teknologi menguasai kita, teknologi menjadi makhluk tak tertanggungkan, penuntut, tak ubahnya anak manja yang menuntut terus menerus,” tulis Desi dalam bukunya yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama ini.
Baca Juga: Matair Rilis 'Jika Tak Kembali'
Desi menuangkan beberapa tulisan pendek dengan gaya bahasa yang lugas dalam buku setebal 220 halaman ini dan kerap mengangkat pengalamannya sendiri. Uniknya, walau ia besar di luar negeri, bukan berarti kita tidak bisa terhubung dengan secuil kisah yang dialami olehnya.
Melalui media sosial dan realitas virtual, kehidupan online membuat kita terus terhubung dan selalu aktif. Ponsel cerdas kita adalah benda pertama yang kita raih saat bangun tidur dan yang terakhir kita letakkan sebelum tidur. Layar kecil di tangan kita itu memberikan kenyamanan, persahabatan, dan rangsangan yang membuat kita terus-menerus tertarik dan bersemangat serta mengalihkan perhatian kita dari dunia nyata. Bersamanya, kita jarang merasa bosan atau punya waktu untuk hanya duduk diam dan melamun.
Meskipun memberi kita banyak manfaat, tak seharusnya kehidupan online menghilangkan kita dari kesenangan hidup di sini saat ini dan berinteraksi dengan dunia fisik (offline). Seharusnya, kehidupan online tidak membuat kita lupa bagaimana berkomunikasi dengan orang-orang nyata dan menghargai keindahan lingkungan kita, serta tidak membuat kita tersesat dalam gangguan terus-menerus.
Baca Juga: SkillsIndonesia 2045: Jalan Baru Pemajuan Pendidikan Vokasi 20 Juli 2024
Buku ini mengundang kita untuk meletakkan ponsel sesekali dan menemukan kembali kesenangan sederhana menghabiskan waktu secara offline. Waktu di mana kita dapat terhubung dengan hal-hal indah di sekitar kita—bukan dengan teks, video, emoji, tetapi dengan mata, telinga, sentuhan, perasaan, imajinasi, dan semua indra kita.